‎ ‎
personal lifestyle blogger jember

Surat Terbuka Atas Kebaikan Kakak dari Adik kecilnya

Bismillahirrohmaanirrohim,
Assalamu’alaikum teman-teman. Bagaimanakah kabar kalian? Senang bisa berjumpa lagi dan semoga kalian senantiasa sehat dan diberkahi oleh-Nya, Amien.

Oh iya, kali ini saya akan sharing tentang cerita kelam saya yang salah dalam mengartikan kebaikan yang telah diberikan oleh orang-orang terkasih di sekitar saya. Pernahkah kalian beranggapan, jika ada seseorang yang kekeuh melarang kita ini itu, tapi tanpa ada penjelasan gamblang terkait pelarangan itu. Padahal kalau dipikir-pikir, hal-hal yang kita lakukan itu tidak menyimpang, namun mereka tetap saja melarang untuk tidak melakukannya. Kira-kira seperti itu sedikit cuplikannya. Mungkin sebagian dari kalian pasti pernah menemui bahkan melakoni atau menjumpai hal yang sama,  yaitu di mana ketika kebaikan tak selalu baik di mata orang lain.

Berikut akan saya ungkapkan sekelumit kisah saya melalui surat terbuka dari saya yang banyak menganggap kebaikan seorang kakak laki-laki saya dan juga kakak-kakak perempuan saya  dengan negatif thingkingnya tentang keputusan yang pernah mereka buat untuk saya hingga saya baru memahami sendiri apa yang mereka lakukan itu ternyata baik dan berguna sekali untuk saya.

check this out

--------------------------------------------

Dear Mbak dan Mas…

Tiada kata yang dapat terucap selain kata “terima kasih” yang telah mengajarkanku banyak hal tentang sebuah kebaikan untukku. Ketika aku masih kecil, yang duduk di bangku SD, kalian memarahiku karena aku selalu menonton televisi di rumah tetangga ketika pagi hari saat liburan sekolah, kalian memarahiku, padahal aku tahu kalian bersikap demikian karena ada banyak pekerjaan rumah yang perlu kuselesaikan selain menonton televisi apalagi di rumah tetangga.

Ketika aku beranjak duduk di bangku MTs, kala itu kalian menyuruhku untuk sekolah di Balung, di kecamatan dengan menempuh menggunakan sepeda mini setiap hari. Sebenarnya sedih sekali, karena letaknya jauh, padahal di desa kita juga ada sekolah SMP, tapi Mas Munir Kekeuh sekali untuk menyekolahkanku di MTs yang jauh letaknya. Demi menjalin silaturrahmi dengan guru-guru yayasan yang ada di sana. Namun, sedikit demi sedikit, aku tahu kalau kalian melakukan itu semua agar aku bisa belajar mandiri. Supaya aku juga mampu bertinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan yang bisa dibilang mendekati seperti sebuah kota.

akhirnya bisa lulus juga selama tiga tahun naek sepeda beberapa kilometer hehehe

Ketika aku duduk di bangku Aliyah, ada banyak hal yang selalu membuatku benci terhadap perlakuan kalian. Iya, saat duduk di bangku kelas 1 Aliyah, aku sempat pacaran, sampai-sampai aku membuat Mbak Is menangis gara-gara doi ke rumah tapi tak ku persilahkan masuk. Karena aku berpikiran, aku tak akan berbuat macam-macam karena si doi juga membawa teman, sehingga aku cukup santai seperti ngobrol dengan teman-temanku. Setelah mengetahui kejadian itu, Mbak Is, menangis sejadi-jadinya. Ahh… ketika mengingat hal itu, aku menyesal sekali telah melakukannya, aku juga kecewa kenapa sampai Mbak Is sebegitu marahnya padaku. Aku sama sekali tak mengerti.

Tapi, lambat laun ketika suasana cukup baik, kalian memberitahukan kepadaku kalau apa yang telah aku perbuat malam itu saat berbincang-bincang dengan mantan adalah sebuah perilaku yang tak baik dan juga bisa dicap kurang baik oleh tetangga di sekitar rumah. Pasalnya, lingkungan rumahku adalah daerah pesantren bagaimana kalau sampai ada yang tahu dan mengumbar banyak hal tentang keluarga kita. Begitulah penuturan kalian, seketika membuatku takut dan merasa bersalah dengan hal yang awalnya aku anggap biasa dan tak macam-macam ternyata bermakna negatif buat kalian karena suatu hal dan alasan.

Selanjutnya, ketika aku dinyatakan lulus Aliyah, aku niat sekali untuk bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Bisa menjadi mahasiswa di kampus yang dijuluki gedung putih di kota Malang adalah cita-cita terbesarku. Aku sampai berangan-angan dan berucap di social mediaku, ingin sekali bisa menjadi bagian dari lulusan gedung putih itu. Kalian tahu nama kampusnya apa? Yah, dia adalah Universitas Muhammadiyah Malang, universitas yang tak diragukan lagi kualitas pendidikannya.

Mbak Is dan anaknya

Seketika mendapat pengumuman lulus, aku mengurusi berbagi hal terkait tes masuk ke perguruan tinggi. Saat itu aku mengikuti bidikmisi, namun ternyata rezekiku tidak sampai di sana. Sehingga aku mengikuti tes SBMPTN. Dalam tes tulis yang diadakan di Universitas Negeri Jember itu aku tak mendapatkan restu dari kalian wahai kakak dan juga ibuku. Kalian tahu, aku sangat menginginkan sekali untk bisa kuliah, tak apa meski tidak jadi ke UMM, tapi izinkan aku untuk bisa meneruskan pendidikan di kampus yang dulu pernah kutempati untuk magang dan pelatihan TIK.

Tapi nihil, kalian sama sekali tak menyetujui keputusanku. Bahkan, aku nekat mengikuti tes SBMPTN dengan tanpa restu kalian. Sehingga, apa yang kudapat setelah niat baik yang kucanangkan tanpa restu kalian? Aku tidak diterima baik di Universitas Jember atau Poltek sekalipun. Sedih? Sangat. Kalian tahu, aku benar-benar tak terima, mengapa kalian memupuskan impianku. aku ingin bisa hidup mandiri melalui beasiswa kuliah tersebut. Tapi, semua kembali dengan perizinan kalian. Kalian tak merestuiku untuk kuliah.

Bahkan Mas Munir mengatakan, lebih baik tak usah kuliah terlebih dahulu. Dia tak bisa membiayai pendidikan di perguruan tinggi, dan perlu mengurusi kewajibannya sebagai kepala  untuk keluarga kecilnya. Dia hanya mampu menyekolahkanku hingga Aliyah saja. Setelah aliyah, aku diharuskan kembali mengurus dan merawat ibu, sehingga tugas mulia itu berpindah dari Mas Munir kepadaku. Saat itu, aku sering banyak menangis meratapi ketidakadilan yang kudapat. Padahal Mas Munir adalah seorang guru, mengapa dia tak mendukungku sama sekali. Sedih dan kecewa sungguh kurasakan.

My Lovely brother and his wife

Akhirnya, mau tak mau aku menerima semua keputusan dari kalian. berhenti untuk mengejar beasiswa kuliah dan focus untuk bekerja. Bekerja untuk mengurusi ibu. Ahh… aku gak mau bayangin gimana rasanya ketika pertama kali bekerja. Hehehe. Padahal aku berpikir, kalau saja aku bisa kuliah, aku bisa memanfaatkan bakat ku yang ada untuk bekerja dan mengurusi ibu. Namun aku urungkan niat itu. Dan mau tak mau mencoba ikhlas dengan keputusan yang kalian berikan.

Mengenai aku akan bekerja di mana saat itu, pernah kuutarakan ingin kerja di sebuah supermarket atau swalayan, karena secara kasat mata itu adalah pekerjaan yang beken. Tak taunya, mbak-mbak melarangku. Alasannya karena kalau bekerja di tempat swalayan yang aku maksud, tidaklah boleh menggunakan jilbab, selain itu aku bisa-bisa pulang malam. Padahal aku tak pernah keluar malam sama sekali kecuali didampingi Mas Munir. Bagaimana apabila ada sesuatu hal menimpaku? Siapa yang mau bertanggung jawab?

Setelah itu, aku pun berdamai dengan diri sendiri dan menerima usulan dari Mbak Is untuk mencoba melamar pekerjaan di tempatku bekerja saat ini. Saat itu aku mikirnya, kenapa tempatnya di desa, sih. Dekat sama rumah dan kurang beken. Begitulah ucapku ketika pertama kali menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan. Tak taunya, aku mendapat informasi kalau aku diterima di tempatku saat ini. Bismillah, sekali lagi dengan sedikit terpaksa saya pun akhirnya mulai bekerja si CV. Al-Maidah.

Bersama teman-teman Cv. Al-Maidah di Kawah Ijen

Mungkin, tanpa usulan kalian mbak-mbakku sayang, prestasi yang telah kuraih selama bekerja tak akan pernah kudapatkan hingga saat ini. Karena, sebulan setelah aku bekerja, aku bisa membeli handphone meski itu bekas. Setahun lebih kemudian, aku juga bisa membeli motor dengan jerih payahku selama bekerja, meski masih motor jadul tapi setidaknya aku bisa pergi dan pulang kerja tidak menggunakan sepeda, dan bisa mengantarkan ibu kemana pun. Alhamdulillah….


Handphone pertama dari gaji pertama selama sebulan bekerja

setelah dua tahunan bekerja

Kalau saja aku tidak menuruti permintaan kalian untuk bekerja di Al-Maidah, aku juga tak akan mendapatkan android dari hasil lomba blog yang saat ini bisa kunikmati. Itu adalah hadiah terindah dari usaha kalian yang pernah kupikir jelek dan kurang bergengsi buatku. Tak taunya, aku mendapatkan manfaat dari pekerjaan ini. Mengapa demikian, banyak orang yang mengatakan, pekerjaanku termasuk  untung, karena dekat dengan rumah, gaji yang diterima sudah bersih, makan siang pun free, bisa pulang cepat, tanpa bayar kos. Itu menurut para tetangga.

Alhamdulillah....

Dan kalian tahu, Mbak dan Mas ku sayang…
Aku bersyukur aku memiliki kalian yang banyak mendukungku. Aku seringkali berpikir negatif terhadap tujuan yang baik dari kalian. maafkan adikmu ini yang banyak melukai perasaanmu.

Tak hanya sampai disitu, untuk Mas Munir…
Terima kasih banyak untuk segala hal yang telah kau contohkan perbuatan baik padaku. Maafkan aku yang banyak iri dengan perlakuan ibu terhadapmu yang lebih spesial. Hal itu karena kamu adalah sosok seorang ayah, kepala keluarga untuk aku dan ibu, dan juga figur seorang kakak buatku.

Maapkan atas tingkahku yang sering meluapkan emosi kepadamu, ketika ibu tidak setuju dengan keputusanku tentang sebuah hal. Aku mengadu kepadamu tapi aku menganggap kamu menyetujui pernyataan ibu, tapi dilain sisi kamu tetap mampu menenangkanku layaknya memberi kasih sayang dari seorang ayah dan kakak. Kamu selalu mengatakan kepadaku, kalau terjadi apa-apa sama ibu, lebih baik aku mengalah dan berusaha menjelaskan sebaik mungkin kepadanya. Padahal kau tahu, aku tak begitu dekat dengan ibu. Aku hanya mampu berujar lewat tulisan atau melalui suara.

ketika acara Enpro di Madrasah Aliyah


Meski demikian, kamu tak henti-henti mampu meyakinkanku, bahwa apa yang kamu lakukan adalah sebuah kebaikan yang terbaik untukku. Aku benar-benar minta maaf dengan segala perlakuan burukku terhadapmu meski itu jarang sekali kutunjukkan padamu. Aku belajar banyak hal dari setiap masukan-masukanmu.

Aku tahu, apa yang dikatakan olehmu pasti memiliki tujuan tertentu yang pastinya baik untukku. Karena tak ada seorang kakak yang ingin menyesatkan adiknya atau membuat adiknya sedih di kemudian hari. Maafkan aku yang banyak menganggap setiap kebaikan kalian adalah suatu hal yang negatif dan jauh dari angan-anganku. Padahal aku belum berpengalaman dan tak memiliki pengalaman lebih seperti kalian wahai kakak-kakakku.

Thanks so much my brother and sister

Memang setiap hal yang kadang aku pikir itu baik, ternyata tak selalu bermakna yang demikian. Kadang bisa bermakna sebaliknya. Oleh sebab itu, aku selalu banyak belajar dari pengalaman dan tak ingin seketika berpikiran negatif dengan suatu perkara.

Terima kasih banyak ya Mbak-Mbak dan Mas Munir, sudah mau mengingatkanku, memberikanku arahan, dan tak memaksakan sesuatu hal kepadaku. Aku tahu sekarang, setiap larangan yang ditujukan padaku itu adalah bukti kau sayang padaku dan tak ingin terjadi hal apapun kepadaku.

Khususnya Mas Munir, aku banyak berhutang budi dengan sampean hingga aku bisa sampai di titik ini. Kamu selalu menjadi pendukungku di garda terdepan setara dengan ibu. Aku tak akan menyia-nyiakan usaha sampean mendidikku layaknya seorang ayah kepada anaknya, meski sejatinya sampean adalah kakakku. Hehehe…

Tanpa kalian aku seperti kapas yang tak ada apa-apanya


---------------------------------------------------------

Mungkin itu saja sekelumit kisah yang ingin saya bagi kali ini. Surat terbuka khusus untuk kakak-kakak saya tercinta yang banyak membimbing saya. Hehehe… kini, saya menerima setiap  Kebaikan Seorang Kakak, meski kadang sulit saya terima, tetapi bisa saya ambil dan petik hikmahnya.

Kalau kalian punya cerita dibalik Kebaikan Yang Tak Selalu Baik Di Mata Orang Lain, bisa ikutan Giveawaynya Mbak Noorma ya… mumpung ada waktu nih.

Terima kasih dan jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, temans…
Akhirul Kalam…

45 komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^
  1. Terkadang memang kita bisa salah mengambil keputusan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyya mbak... nganggep pilihan kita itu bnar sndiri xoxooxo

      Hapus
  2. Kalo mbak sama kakakku dl krg perhatian. Bersyukurlah kamuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillahh...
      iya mbak Jiah, perlu disyukuri :D

      Hapus
  3. Untung ikut apa kata mas sama mbaknya yaa, mbak sm mas perhatian bgt yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillahh iya mbak...
      tak disangka mreka prhatian bnget :D
      akunya yg ga peka hee

      Hapus
  4. Waah perhatian banget kakak2nya.
    Kakakku banyak tp aku dituntut mandiri n tdk bergantung sm mrk...malah cenderung dilepas aja. Mgkn mrk percaya sy bs mandiri...pdhal kadang2 pingin diperhatiin jg

    BalasHapus
    Balasan
    1. hee alhamdulillah... bangga sekali memiliki mereka mbak... ^_^

      Hapus
  5. Pokok e tetep semangat ya, nduk
    saluttt sama kamu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Witri...
      harus itu
      mkasih y mbak ^_^

      Hapus
  6. Beruntungnya dirimu, mbak :) karena punya kakak-kakak yang begitu perhatian. Mereka tahu apa yang terbaik buat adiknya ya...

    BalasHapus
  7. tulisannya dalem lho rohma
    semoga menang ya :)
    anyway salam kenal balik, maaf baru sempet main kesini

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah...
      terima kasih banyak ya mbak ninda
      welcome home, mbak ninda :D

      Hapus
  8. Aku pun mewek mba....semoga menang ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. huwahhh yg nulis juga ikut kebawa suasana mbak :D
      amin ya robbb
      terima kasih mbak widhi ^_^

      Hapus
  9. Surat terbukanya bikin terharu dan meleleh

    BalasHapus
  10. Mbak dan Masnya sist rohma klo baca Surat terbuka ini psti terharu dan pngen peluk adiknya..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhee semoga saja ya mbak hhee
      pngen bnget dpet pelukan mereka hhee

      Hapus
  11. Alhamdulillah ,saya khawatir tadi ending masih tersimpan 'sesuatu'
    Surat adik untuk kakak ini menyentuh banger rochma dan karena ini untuk GA semoga menang ya, salam.tuk kakaknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ndak kok mbak,, ini sbgai bntuk trimakasih udah banyak kasih perhatian ke aku buat mreka hhee
      amin ya robbal alamin...
      iya mbak. terima kasih yaa ^_^

      Hapus
  12. Aku ga punya kakak malah. Hehe. Kadang pengin diperhatiin jg tapi sama siapa. Wekeke. Selama ini memang terbiasa mandiri jd enak kemana2. Paling yg nglarang ini itu ortu sih. Cm skrg udah mulai selaras dg keinginan mereka. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillahh hhee
      syukuri apa adanya ya mbak... salut buat mbak Ila :D

      Hapus
  13. Barakallah Mba..
    Jadi ingat dulu.. Bapak keras banget klo soal agama dan pakaian.sekolah hrs di madrasah, ga boleh pake celana, ga boleh pacaran, harus rajin ngaji, dll. Alhmd skrg jd merasa bersykukur dl bapak menggembelngku spt itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah... lumayan juga ya mbak peraturannya hhee
      alhamdulillah trnyata ada hikmah dibalik larangan tsb hhee

      Hapus
  14. Nggak ada saudara yang baik yang mau menjerumuskan saudara lainnya, apa yang dilakukan kakak adalah apa yang menurutnya TERBAIK untuk adiknya, sangat menyentuh mbak :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyya mbak... merka baik bnget trnyata T_T
      alhamdulillahh..

      Hapus
  15. karena buat saya juga, diingatkan berarti dipedulikan.

    BalasHapus
  16. Alhamdulilah akhirnya semua ga sesulit yg dibayangkan ya rohma..
    Memang mungkin kadang kakak atau ortu agak keras tapi pada akhirnya nasihat dan saran2 mereka justru yg terbaik untuk kita ke depannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak nita. ga nyangka bnget
      trenyata mereka begitu peduli sama aku hhee

      Hapus
  17. mengambil keputusan memang harus di fikirkan 2 kali, agar kita mantap dan yakin dalam mengambil keputusan,

    BalasHapus
  18. Ego kita kadang membuat kita sulit menerima saran atau nasihat orang lain ya.
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhhee iyya pak de..
      egois bnget sma pilihan sndiri
      salam hangat juga dari bumi Karangduren, ^_^

      Hapus
  19. Bahagianya punya kakak2 yang sangat perhatian ya Mba :)
    AKu anak pertama, suami anak pertama jg, jd gk punya kesempatan punya kakak hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhh anak pertama ya mbak hhhee
      alhamdulillahh bhagia bnget punya mereka, mbak hhee

      Hapus
  20. Wow, sebuah surat terbuka yang ditulis dengan penuh takzim oleh seorang adik yang kini sadar utuh bahwa segala 'ketidaknyamanan' yang dirasakan itu, adalah baik ujungnya. Setuju, tak ada seorang kakak yang ingin menyesatkan adiknya, walo di awal kesannya kok spt 'jahat' tp percaya lah, semua itu demi kebaikan sang adik. Dan bener adanya kan? Seperti yang kamu tulis di sini.

    Aku yakin, kakak dan Mas mu kini tersenyum bahagia membaca surat ini.
    Sukses untuk lombanya yaaa. Semoga menang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhhee banget mbak...
      merka sungguh baik banget. meski cara buat didik aku beda dn pnuh prdebatan dri diriku. trnyata mereka sungguh diluar dugaanku. so good...
      amin ya robbal alaminn
      terima kaish mbak Al :D

      Hapus
  21. Senang sekali saya membacanya, ada banyak hikmah di balik cerita sampean.

    Jadi skrg jadi kuliah ga mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillahhh
      terima kasih mbak noorma...
      ndak jadi, mbak. pupus untuk kuliahnya hhe
      tpi masih punya harapan utk bisa ksana hhee

      Hapus
  22. rohma curhat abis. memang apa yang kita baik belum tentu baik sebenarnya, aku udah sering ngalamin itu, jadi sekarang kalau dikasih tau oleh siapapun mending nurut aja jika benar tapinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. huuuehee itu spesial buat kakak lakiku, mbak hhee
      iyya mbak. ga ingin ber negatif etrlebih dahulu dg sgala kputusan2 yg diberikan mereka hhheee

      Hapus
  23. Inspiring story. Kalo baca cerita ttg keluarga berasa banget trenyuhnya :)

    BalasHapus

Chingudeul