Minggu, 02 Oktober 2022

Simulasi Menjadi Orangtua dalam Sehari

 

Menjadi Orangtua Asuh dalam Sehari


Bismillaahirrohmaanirrohim

Halo sobats, apa kabarnya nih? FYI, sebenarnya untuk artikel ini harusnya tayang di bulan antara Juli – Agustus. Tapi, karena belum menyempatkan diri untuk menuliskannya, jadi hanya menjadi draft yang sengaja disimpan sementara di otak. Begitu sekarang memang ada waktu luang yang harus disediakan untuk menulis artikel terkait parenting. Maka, akhirnya tulisan ini pun tayang melalui blog Fastabiqul Khoirots, ini.


Bermula dari keponakan yang akan menjalankan operasi di pertengahan bulan Juli, 2022. Saat itu, karena kakakku yang merupakan ibu dari keponakanku tersebut memiliki tiga anak. Di mana anak kedua dan ketiga masih duduk di bangku kelas 4 dan masih berusia kurang dari 2 tahun, tentu tidak diizinkan untuk ikut masuk ke rumah sakit. Karena rumah mertua dekat dengan rumah sakit, sehingga kakakku menitipkan putrinya yang kedua dan ketiga kepadaku. 


Beruntungnya saat itu suami sedang ada di rumah. Jadi bisa sedikit berbagi bagaimana cara membuat mereka tetap nyaman selagi bersama kami. Meski begitu, ada sedikit dari sekian banyak hal yang kami pelajari yang nantinya bisa berguna jika kami diberikan kepercayaan untuk memiliki seorang keturunan, atau anak. 


Sebelumnya, di sini aku akan menyebutkan kedua keponakan yang aku dan suami asuh dari sekitar jam 06.00 WIB sampai 20.00 WIB. Sedangkan untuk nama keponakan aku, yang sudah duduk di bangku sekolah dasar, bernama Lulu. Dan adiknya yang berusia kurang lebih dua tahun ini bernama Mila. Dan dari sinilah beberapa hal yang kami pelajari itu dimulai.


Sehari Menjadi Orangtua Asuh


Ketika menidurkan Mila

Dulu kupikir mempelajari ilmu parenting itu hanya diperuntukkan untuk mereka yang sudah berkeluarga saja. Namun karena kemudahan dalam mengakses berbagai informasi, aku mendapati pesan bahwasanya siapapun bisa mempelajari ilmu untuk masa depan ini. Tidak perlu menjadi orangtua dulu, namun jauh sebelum itu lebih baik. Sekalipun nanti penerapannya mungkin akan sedikit berbeda dari teori yang sudah dipelajari.

 

“Mempersiapkan diri sebagai orangtua juga adalah bagaimana kita berproses untuk mendidik diri sendiri.” ~ kutipan dari buku Anak Juga Manusia karya Angga Setyawan, halaman 26.


Karena saat itu, aku hanya mendengarkan cerita saja dari para orangtua bahwa ketika menjadi orangtua akan seperti ini, ini, itu, dan lainnya tanpa ada prakteknya. Maka jadilah hanya pesan yang menjadi bekal saat aku beradi di posisi tersebut. Kebetulan waktunya pun tiba saat aku dititipi 2 keponakan tersebut yang akhirnya membuatku menyimpulkan beberapa hal terkait menjadi orangtua itu seperti apa rutinitasnya ketika di dalam rumah.


Nah, berikut ini adalah hal-hal yang aku rasakan dan alami ketika mencoba mengasuh dua keponakan tersebut. Apa saja? By the way untuk para orangtua yang mungkin menemukan dan membaca artikel ini, apabila ada beberapa poin yang dirasa benar adanya, mohon untuk sharing di kolom komentarnya, ya.


Yang Aku Temui Ketika Menjadi Orangtua Dalam Sehari


1. Memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk aktivitas yang tertunda atau belum dilaksanakan

Ketika Mila dan Lulu tidur, aku pun ikut terlelap tidak jauh dari mereka. Tapi ini posisi dari setelah ambil ponsel di kamar

Hal ini aku alami saat Mila dan Lulu tengah asyik bermain. Maka aku menyempatkan diri untuk pergi ke belakang untuk membersihkan baju atau pakaian Mila yang basah karena muntahan. Atau ketika Mila dan Lulu tidur, aku pun juga ikut tidur di antara mereka. Supaya ketika mereka bangun, aku juga siap dengan tenaga dan energi baru begitu selesai di charge.

2. Menjadi ibu berarti siap-siap punya alarm baru untuk cepat tanggap dalam hal kebutuhan anak

Mila di bulan itu memang dia baru saja selesai opname. Namun jaraknya beberapa bulan sebelum kakaknya operasi waktu itu. Karenanya, Mila masih sering muntah atau keluar susu yang kadang terjadi saat dirinya tengah tidur. Jadi setiap kali tidur, selalu diberikan kain di sekitar lehernya untuk mengantisipasi apabila terjadi muntahan.


Nah, waktu Mila tidur dan aku juga ikut tertidur di sampingnya, refleks aku terbangun dan mendapati leher Mila sudah basah oleh air susu yang telah diminumnya. Tidak menghiraukan kantuk dan pusing, langsung segera bangkit dan mengganti pakaian Mila dengan yang baru. Kejadian yang seperti ini jarang terjadi ketika sebelum diberikan amanah untuk mengasuh Mila dalam sehari tersebut. Dan mungkin itulah naluri seorang ibu, ya.


3. Menidurkan anak dengan mengajaknya berkeliling memang enak, tapi khawatir jadi kebiasaan

Lulu yang ikut kami menidurkan Mila sambil jalan jalan

Aku beberapa kali mendapati para orangtua berpesan demikian. Namun, aku juga mendapati bahwa sebagian orangtua juga melakukan hal ini. Nah, bagaimana terus? Karena saat itu tidak memungkinkan menidurkan Mila yang merengek mencari ibunya sedangkan dia di posisi mengantuk dan benar-benar mengantuk. Maka aku dan suami, pun mengajak Mila dengan berkeliling menggunakan sepeda motor di sekitar jalanan rumah. Meski begitu, aku juga tak lupa menyiapkan berbagai peralatan yang memang dibutuhkan Mila supaya tidak masuk angin. Seperti mengenakan kaos kaki dan jaket. Karena Mila memiliki sakit pada pernafasan. Khawatir kedinginan saat di jalan.

Opsi ini mungkin tidak akan diambil jika anak mudah ketika diajak tidur. Tapi, ketika sudah mengusahakan banyak hal supaya anak tertidur namun tidak terlelap juga. Maka mau tak mau, langkah ini yang baru diambil. Asalkan jangan keseringan saja.


4. Tantangan besar ketika anak peka terhadap suara ketika mereka tidur

Mungkin ini menjadi tantangan yang kerap kali orangtua hadapi saat anak tertidur harus meminimalisir gerakan atau suara yang dapat memicu si kecil terbangun. Hal tersebut juga terjadi ketika Mila tertidur. Tidak lama setelah membaringkannya di kasur, dan aku melakukan aktivitas lainnya yang bisa dikerjakan. Eh dikasih tahu suami kalau Mila udah bangun.


Maka dari itu saat anak tertidur sebisa mungkin orang rumah untuk tidak banyak membuat suara supaya dia terbangun. Karena saat menidurkannya banyak banget tantangannya. Begitu bangun, dia akan sulit untuk tertidur kembali.


5. Banyak mainan belum tentu anak bisa tetap nyaman, adakalanya bosan

Cepat bosannya, tapi kadang keasyikan juga

Sudah terjadi saat setelah aku mengajak Mila main bersama Lulu. Mila kurang antusias dengan mainan yang ada. Beruntung ada Lulu yang dengan senang hati membuat suasana menjadi cair. Hingga perlahan Mila mau bermain kembali. Walau sesekali Mila bosan dan merengek.

6. Memberikan gawai pada anak memang mengasyikkan, namun tetap dalam pantauan

Beruntung, ketika mengasuh Mila dan Lulu. Keduanya tidak terlalu kecanduan dengan gawai. Lulu yang sudah paham aturan bermain gawai pun mau diminta kembali gawainya ketika sudah lama memainkannya. Lulu juga mau seandainya bergabung menonton tayangan yang Mila’s friendly. Atau tontonan untuk anak-anak kecil. Entah hewan ataupun kartun.


Tapi, beruntung gawai tidak banyak digunakan. Hanya beberapa momen tertentu saat sudah bosan bermain mainan yang ada.


7. Dibutuhkan kerjasama antara suami dan istri dalam mengasuh anak

Ngerasa banget, walau bukan anak sendiri. Tapi sekalipun mengasuh dua keponakan yang berbeda usia ini tentu amat sangat dibutuhkan yang Namanya Kerjasama dengan pasangan. Seperti ketika aku ingin ke belakang lalu suami kuminta tolong untuk memantau Mila dan Lulu yang tengah asyik bermain di depannya. Beruntung mereka tetap tenang. Karena di awal setelah diserahkan sama bapak dari keduanya. Mila nggak mau turun atau digendong siapapun selain aku. Sehingga saat ke kamar mandi mau nggak mau ikut aku, misal lagi kebelet buang air kecil.

 

8. Masih dari sepersekian ilmu parenting yang belum diterapkan

Seperti keterlibatan orangtua atau mertua dalam pengasuhan anak itu juga memiliki dampak baik atau justru sebaliknya ya? Tapi, karena aku hanya sehari mengasuh keduanya sehingga peran mertua sangat membantuku. Sebab beliau mau menjaga Mila dan Lulu saat aku ingin menjalankan ibadah. Kalau sudah punya anak sendiri, mungkin baru tahu ya. Bagaimana peran orangtua atau mertua bagi anak. Hehehe


Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku tulis kembali. Tapi, sepertinya perlu disudahi dulu deh untuk artikel ini. Karena sifat ilmu parenting itu luas banget. Tentunya tidak akan sama penerapannya di satu keluarga ke keluarga lain. Pasti ada hal-hal yang dimodifikasi. 


Nah, itu dia sobats beberapa hal yang aku temukan saat sehari menjadi orangtua asuh. Apabila para orangtua yang membaca ini juga pernah mengalaminya, mohon dibagikan secuil pengalamannya melalui kolom komentar yang tersedia di bawah tulisan ini, ya. Semoga dengan artikel parenting yang aku bagikan ini, membuatku yakin dan percaya jika ilmu ini akan berguna saat aku telah dikaruniakan seorang putra atau putri nantinya.


By the way terima kasih telah membaca dan berkunjung di artikel ini. Semoga bermanfaat, dan jangan lupa untuk tinggalkan komentar kamu, ya. Feel free to drop your comments.


~blessed

Kr. Rohmah


3 komentar:

  1. Oalah, tapi seru juga kan ngasuh anak karena mereka gemesin banget walau tingkahnya aneh-aneh. Agak bikin pusing tapi menyenangkan kalau bisa paham mereka. Bener banget parenting memang bisa dipelajari kapanpun, mulai dini lebih baik, hehe. Terima kasih sharingnya!

    BalasHapus
  2. aku juga kadang bingung kalo anak udah mulai bosan, harus hibur gimana lagi huweee

    BalasHapus
  3. Keren banget niiihh, aku dulu gak ada ponakan buat "latihan" wkwk :P
    Ilmu Parenting emang kyknya sebaiknya dipelajari sebelum punya anka atau malah sebelum nikah ya mbak, kan milih pasangan juga kyknya bakalan mempengaruhi gaya parenting kelak :D
    Nyesel dulu gak lakuin, krn emang gk terlalu aware. Kalau skrng banyak banget sumbernya yaaa :D TFS

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...