‎ ‎
personal lifestyle blogger jember

Refleksi dan Target Baru: Evaluasi dan Menjaga Api Ramadan Tetap Menyala

harapan di akhir ramadan

Bismillaahirrohmaanirohim

Halo sobats... Apa kabarnya nih? Masih pada semangat menjalankan ibadah puasanya, kan? Semoga demikian ya. Apalagi menjelang pertengahan ramadan, siap-siap menyambut dengan tanggal ganjil untuk lebih giat lagi dalam beribadah dan beramal. Baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Lalu, bagaimana kalau ramadan berakhir? Apakah semangat untuk berbuat baik juga semakin pudar, karena ditinggalkan oleh ramadan?

Kali ini, adalah tema terakhir dari challenge atau tantangan menulis yang diselenggarakan oleh Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis. Jujur aku sedih banget karena challenge ini akan berakhir. Aku mempertanyakan diriku sendiri. Apakah kalau tantangan telah usai, aku juga kembali enggan menulis di blog seperti kemarin? Atau justru tambah semangat, karena selalu ada ide-ide menarik yang setiap hari selalu hadir dan siap untuk dituliskan?

Hal yang sama juga dengan ramadan. Aku sangat antusias menyambut ramadan. Namun, aku sepertinya tidak siap jika ramadan pergi meninggalkanku. Andai ramadan bisa setahun lamanya, supaya karakter diri terbangun sepenuhnya setiap hari?.

Kalau dalam 30 hari saja belum bisa memperbaiki diri, bagaimana jika ramadan pergi? Akankah diri ini tetap tidak ada perubahan, atau justru siap dengan target baru setelah melakukan refleksi?

Suasana Ketika Ramadan akan Berakhir

Ramadan selalu datang membawa ketenangan. Suasana ramadan tidak bisa ditemukan di bulan-bulan lainnya. Walau selama 30 hari harus terus menahan diri, ditempa dengan kelelahan fisik yang nikmat, namun ketenangan batin ini selalu membawa pada kedamaian.

Tapi, tatkala ramadan sudah memasuki pertengahan mendekati akhir perjalanan, rasa-rasanya perasaan berat ditinggalkan kian terasa mencekam, bahkan jauh lebih sulit dari biasanya. 

Bagaimana tidak sulit, menuju hari kemenangan, pusat perbelanjaan jauh lebih ramai dikunjungi dari biasanya. Mushola dan masjid yang tiap sholat tarawih selalu penuh oleh para jama'ah, justru semakin maju barisannya. Atau malah tambah sedikit jamaahnya. Mau tidak mau kita akan dihadapkan pada kondisi harus berpisah dengan ramadan, dan siap-siap bertemu hari kemenangan.

Jujur suasana ini pasti akan aku temui. Walau dengan berat hati.

Refleksi dari Menjalankan Puasa Selama 30 Hari

Selama 30 hari diri kita dibentuk di sebuah bengkel karakter yang luar biasa yang disebut dengan puasa ramadan. Namun, apakah setelah menahan diri dari lapar dan makan terlahir sebuah kontrol diri, dan empati, atau justru hanya perpindahan jam makan saja?

Ramadan mengajarkan untuk menahan diri. Tapi kenapa di luar sana masih ada manusia-manusia yang sulit untuk berdamai dengan sesamanya?

Apakah kesejukan sholat tarawih, dan tadarus mengikis empati manusia itu untuk peduli kepada sesama? Atau mungkin di hati mereka sudah tidak terlihat jiwa kepedulian itu, sehingga yang ditimbulkan hanya pertikaian semata.

Kondisi yang terjadi saat ini, membawaku untuk terus memperkuat dan memperkokoh iman. Terlepas saat ramadan masih setia menemani, atau ketika dia sudah pergi. Apalagi dari rutinitas yang selalu dibangun berupa sholat tarawih, tadarus, ibadah wajib dan sunnah lainnya di bulan yang penuh berkah ini. Karena kebiasaan ini selalu membawa harapan baru dan target baru.



Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Chingudeul