Cerpenku

Cerpenku : MY DREAMS

01.40.00



MY DREAMS

            Pagi ini cahaya matahari sangat cerah sekali seperti halnya suasana hatiku yang sedang berbunga–bunga. Karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan ujian nasional. Maka dari itu aku menyambut pagi ini dengan wajah yang berseri–seri dan aura yang sangat cemerlang. Semangatku pun membara untuk mengayuh sepeda ke sekolah dengan langkah yang pelan tapi pasti.
            Sesampainya di sekolah, ternyata teman–teman sudah banyak yang berkumpul dan menerima selembaran kertas yang di berikan pak guru. Aku pun menghampiri sahabatku Lisa.
            “Kamu udah di panggil, Sa ?” tanyaku pada Lisa.
            “Belum nich Ca, sebentar lagi pasti di panggil” jawabnya dengan harap–harap cemas. Sesaat kemudian.
            “Alisa Nike Rahayu, Aicha Novita Sari… “ panggil pak guru.
            Aku pun maju dengan langkah cepat dan menerima surat lulus atau tidaknya Ujian Nasional. Alhamdulillah aku lulus. Senangnya hatiku, begitu juga dengan Lisa. Tak sadar air mata membasahi pipiku. Ternyata usahaku selama ini mendapatkan hasil juga. Terima kasih Tuhan.
***
Beberapa hari yang lalu, ujian SBMPTN telah selesai di laksanakan dan sekarang aku masih menunggu hasil pengumuman. Sebenarnya aku sudah ikut Bidikmisi, tapi aku tak lolos sama sekali. Terpaksa aku ikut SBMPTN. Aku mengikuti tes tersebut dengan tidak mendapatkan izin dari ibu dan juga kakakku. Mereka melarangku untuk melanjutkan pendidikan di jenjang perkuliahan. Terlebih ibu sangat gigih memvonisku.
“Kuliah itu memerlukan biaya yang tak sedikit, Sa. Terus, dana yang akan kamu gunakan itu dapat darimana? kalaupun bapak kamu mau memberikan dananya, ibu setuju saja. Tapi, sampai saat ini pun, dia tak pernah menemuimu kan? Jadi, jangan coba–coba untuk kuliah lagi” tutur ibu.
“Tapi aku kan ikut beasiswa kuliah, bu. Aku pun masih ingin menuntut ilmu lagi. Apakah aku salah jika aku ingin meneruskan pendidikan di Universitas yang aku inginkan?” pintaku pada ibu.
            “Sekarang itu tidak ada yang namanya kuliah gratis Sa. Kamu boleh berangan–angan untuk kuliah. Tapi jangan sampai nekat untuk kuliah. Lebih baik cari kerja sana” kata ibu kembali sembari melanjutkan aktifitasnya.
            Oleh sebab itu, aku hanya memendam semua impianku ini dan tetap akan berusaha mewujudkannya kelak. Aku tahu kenapa ibu begitu ngotot tak mengizinkanku untuk kuliah. Karena ibu sudah jera dengan kejadian yang telah di alami oleh kakakku. Karena dia adalah sarjana Strata Satu FKIP Matematika. Saat ini pun dia juga menjabat sebagai kepala sekolah di Sekolah Dasar dekat rumahku. Tapi yang paling di sayangkan dari ibuku. Kuliah selama 4 tahun, tapi gaji perbulannya tak cukup untuk biaya hidup sehari–hari, meskipun ada banyak rapat, pangkat SI, jabatan kepala sekolah, tapi hal tersebut tak dapat menjamin kesejahteraan keluarga.
            Kakak adalah tulang punggung keluarga, ayah sudah bercerai dengan ibu saat aku masih kecil. Maka dari itu kakak berusaha untuk memenuhi kebutuhan setiap hari dengan mencari pekerjaan tambahan, contoh kecilnya jadi guru privat komputer. Apalagi jika aku meneruskan pendidikan di jenjang perkuliahan, pasti aku akan sangat menambah beban pikiran kakak. Sehingga aku hanya bisa menelan ludah dalam–dalam, meski ada beasiswa kuliah pun, aku tetap tak akan dapat izin dari kedua orang tersebut.
            Hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk mencari lowongan kerja yang dekat dengan tempat tinggalku. Alhamdulillah aku diterima di salah satu perusahaan terkemuka di kotaku. Awalnya cukup sulit diriku untuk menyesuaikan keadaanku yang dulunya masih kekanak–kanakan menjadi semakin mandiri. Tapi, lama kelamaan aku sudah terbiasa dengan keadaan tersebut. Tapi disisi lain, hatiku masih menyimpan sebuah asa dan juga harapan yang tak kunjung datang, yakni kuliah.
            Aku pun sudah mencoba melupakan hasil SMBPTN beberapa hari lalu. Karena jika do’a restu dari ibu dan juga kakakku tidak ku dapatkan, pastinya aku tidak akan kuliah untuk selamanya. Karena kesuksesan dalam kuliah itu juga memerlukan dukungan dari mereka, untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
            Apalagi, ketika aku aktif di jejaring sosial di internet, hatiku menjadi sedih dan pilu. Karena setiapkali aku melihat update status dan juga foto–foto dari teman–temanku yang sudah kuliah, rasanya aku juga ingin merasakan hal yang sama dengan mereka. Mengarungi seluk beluk, dan sekelumit pendidikan di bangku perkuliahan itu. Oh Tuhan, kapankah aku bisa seperti mereka? tanpa sadar, air mata pun membasahi pipiku. Aku tak dapat menahan rasa piluku ini sendiri. Tapi aku pun juga tak ingin menambah beban cukup banyak kepada orang–orang yang nantinya aku curhati.
            Andai saja kau tahu, ibu dan juga kakak, jika aku ingin sekali menikmati masa–masa indah dan juga masa sulit ketika berada di bangku kuliah. Tapi aku juga tak hanya ingin kuliah dengan fakultas yang tak selaras dengan keinginanku. Aku takut hal tersebut dapat berakibat fatal pada masa depanku kelak ketika aku sudah lulus nanti. Sehingga aku memutuskan untuk mengumpulkan dana sebanyak mungkin selama satu tahun kedepan untuk biaya kuliah.
***
            Ibu dan juga kakakku tersayang, aku ingin membahagiakan kalian. Kalian sangat bahagia ketika aku sudah bekerja dan mendapatkan gaji, sehingga aku dapat membantu perekonomian keluarga. Tapi, taukah kalian? jauh dilubuk hatiku yang paling dalam, aku masih ingin kuliah dengan jerih payahku sendiri.
Sekalipun ibu dan juga kakak melarangku, aku akan tetap memegang impianku ini untuk bisa kuliah dan mencapai harapan yang ku inginkan, hingga aku dapat menyalurkan ilmu yang ku punya. Meski aku sudah terlebih dahulu mendapat pekerjaan melalui keterampilan yang ku punya. Tapi, aku akan berusaha menambah ilmu yang sudah ku dapat ini di bangku perkuliahan. Karena yang aku butuhkan dalam melanjtukan pendidikan di bangku perkuliahan bukanlah title, jabatan, pangkat, maupun keluhuran. Tapi ilmu yang bermanfaat.
            Seberapa besar pun perjuangan untuk menggapai semua impianku. Akan terus aku usahakan agar aku dapat meraihnya. Dan berhasil menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari baik bagi diriku maupun oranglain. Itulah impianku saat ini.
                       
                                                                        Jember, 17 Oktober 2013, 23:15 WIB

           


You Might Also Like

1 komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...