Hadiah Spesial Teruntuk Orang Tersayang

April 05, 2017






 Bismillaahirrohmaanirrohim...

“But there's a story behind everything. How a picture got on a wall. How a scar got on your face. Sometimes the stories are simple, and sometimes they are hard and heartbreaking. But behind all your stories is always your mother's story, because hers is where yours begin.”
― Mitch Albom, For One More Day1

Quote di atas amat tepat menggambarkan dengan apa yang akan kubagikan kali ini. Rasanya kalau membicarakan tentang ibu tentu tidak akan pernah ada habisnya. Berbagai macam karakter dan keistimewaan seorang ibu tentu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Begitu pula dengan ibuku. Ibu yang kerap kali kupanggil dengan sebutan ‘Mae’.

Wanita yang hampir memasuki umur 60 tahun beberapa tahun lagi ini adalah sosok terpenting dan berpengaruh dalam hidupku. Beliau spesial, hingga aku harus lama dan mengerti sekaligus paham dengan bahasa tubuhnya baru-baru ini. Lah, emang sebelumnya, enggak? Ya, dulu aku sudah pernah nakal sama beliau. Bantah, sering, tak acuh padanya, sering, kalau disuruh masih ngeles – kalau ini masih tetep, cuman intensitasnya lebih dikurangi, gaes. Jangan ditiru

Kalau dulu aku nakalnya ‘sangat’ pluskebangetan’ pada Mae, tapi, setelah aku lulus Aliyah, gagal masuk PTN, terus terpaksa ngelamar kerjaan, ditinggal Mas merantau ke pulau sebelah bersama istrinya, diterima kerja, terus dapat gaji pertama, barulah aku sedikit banyak paham dengan karakter Mae. Bukan cuma dititik itu saja, setelah kakak perempuanku yang nomor 3 memberitahukanku rahasia terbesar dibalik tanda tanya yang menyebabkan aku cemburu kepada Masku yang diberikan perlakuan lebih berbeda daripadaku oleh Ibu, aku jadi sedih, maah, kesal, dan nggak tega dengan apa yang dialami Ibu. Aku punya 3 kakak perempuan, dan 1 kakak laki-laki, aku anak terakhir.

 
Abaikan pipi tembem waktu itu

Sepertinya aku tak perlu menceritakan bagian terpilu itu ya, gaes. Karena ini temanya “cerita hepi” atau pun cerita sebelum akhirnya hepi tentang Ibuku. Aku udah pernah menuliskan bagian pilu tentang Ibu pada postingan lawas, bisa cek sendiri dah ya, hehehehe...


Setelah aku merasakan indahnya pengalaman pertama bekerja yang kerap kali membosankan saat itu, tak jarang aku membawa setan jahat ke rumah. Sampai-sampai Ibu mendengarkanku mengeluh karena capek kerja. Kalau ingat itu, rasanya malu banget. Kayak aku sendiri yang merasakan capeknya kerja. Padahal ‘cuma’ duduk di depan komputer. Bahkan kalau sehabis sholat Maghrib, waktu itu ngaji kitab rutinitas di musholla sudah selesai, karena teman seangkatan sudah mondok di tempat yang jauh dari desa. Ibu selalu menyuruhku untuk sekedar membagikan ilmu yang sudah kudapat di Madrasah Diniyah milik paman, yang ada tepat di depan rumah. Awalnya juga males, lambat laun aku juga paham makna kenapa Ibu menyuruhku melakukan hal tersebut.



Rasanya, perasaan kesal sama Ibu tak pernah ada habis dari waktu itu bahkan sampai sekarang. Rasa kesal itu tatkala Ibu belum memahami apa yang kumaksud, sedangkan aku sendiri tak paham kenapa Ibu bersikap demikian. Yah, jangan kaget karena kami hanya berdua di rumah, sejak tahun akhir tahun 2013. Bisa dipastikan kalau dua perempuan di rumah, meski kami beda terpaut usia yang jauh, saya rasa Ibu sudah memasuki kembali masa kanak-kanaknya.

Persoalan kecil yang seharusnya bisa dibicarakan baik-baik, kadang berlarut menjadi panjang. Urusan di mana aku sulit untuk keluar rumah demi jalan-jalan bareng teman, atau hanya ikut Kelas Inspirasi di kota sendiri itu, masyaallah ijinnya. Nah, baru-baru ini aja, aku punya tips dan trik bagaimana ngeluluhin hatinya Ibu, tanpa membuatnya marah berlarut-larut.

Bahkan, temanku pun banyak yang sudah paham jika aku itu sulit untuk keluar rumah. Jadi, tiap kali ada sahabat terdekatku yang sehabis berlibur ke mana... ke tempat yang ingin sekali kukunjungi, dan aku mengeluh ‘lagi-lagi’ nggak bisa ikut gabung dalam liburan itu, mereka tentu paham dengan mengatakan seperti ini. “Apa Ibumu menyetujuinya?” Glekk!!! Yah, mereka benar-benar paham maksudku, tentu mereka mengetahui setelah melihat mata sipitku ini.

Aku hanya mereka-reka, kenapa beliau melakukan itu? Mengapa Ibu melarangku, hingga aku berpikir seolah-olah aku nggak boleh kemana-mana, cukup bekerja yang bener, nggak usah jalan-jalan yang ujung-ujungnya ngabisin duit, itu pemikiran yang kudapat dari Ibu.

Tapi ternyata, nggak sedangkal itu maksud Ibu begitu “Sulit” kasih kebebasan buatku. Ibu paham, tanggunganku masih banyak. Bahkan untuk Laptopku sekarang ini, masih ada tanggungan ke Kakak perempuanku yang nomor 3. Selain itu, aku kerap kali mendapat tausiah dari kakak iparku, untuk tidak terlalu menghabiskan uang demi kesenangan sesaat. Emang sih, aku sendiri selalu menyangkal, kalau aku jalan-jalan itu bisa kehitung jari. Jalan-jalannya aja terbatas di kecamatan doang.

Sebenarnya aku pernah marah gara-gara Ibu nggak kasih ijin karena jalan-jalan. Karena pikirku, cukup ijin Ibu yang lolos dengan kartu hijau, aku bisa bebas berlibur, tapi sayangnya Ibu tetap kekuh dengan pendiriannya. Sempat aku berpikir dan mengandai-andai seperti ini. “Andai, Mae bisa seperti Ibunya Si Fulan yang cukup bebas kasih ijin kalau dia kepengen jalan kemana, gitu. Apa Mae nggak pernah peduli dengan apa yang kuinginkan?”

Jahat banget kan, aku. Bukannya bersyukur punya Ibu demikian. Tentu aku harus mencari celah mengapa Ibu besikap demikian, apa alasannya beliau bersikap seperti itu?

Nah ternyata, Ibu itu amat sangat perhatian terhadapku, karena beliau tak ingin melihat aku dimarahi kakak iparku gara-gara hobi terpendamku “jalan-jalan” itu. Ibu selalu memikirkan jangka panjangnya. Lah apa itu?

“Tanggunganmu itu masih banyak, nduk. Iya aku ngerti kamu liburan ke sananya Cuma sehari, tapi biayanya kan butuh banyak. Mending buat sehari-hari aja.”

“Pikirkan masa depanmu. Meski kamu masih belum nikah saat ini, banyak-banyaklah nabung. Karena kamu nggak ada yang bakal nanggung saat nikah ntar. Kamu berdiri sendiri. Bapakmu tak mengurusi itu. Makanya, kalau tiap gajian, jangan beli pakaian, atau sandangan terus, mending ditabung.”

Glekk!!! Itu salahsatu kata-kata yang kerapkali Ibu sampaikan, walau kadang hanya tersirat tapi benar-benar ngefek tepat buatku. Ya, aku berdiri sendiri demi Ibu, dan masa depanku. Karena aku sudah melihat “Pendirian” Ibu, tatkala beliau harus membesarkan lima orang anak, tanpa seorang suami, hingga mampu mengantarkan putranya lulus kuliah. Aku nggak, tapi alhamdulillah bisa sampai Aliyah. Hehehee....


Kalau dipikir, seperti irrasional. Darimana Ibu dapatkan uang untuk itu? Padahal Ibu kerjanya pun serabutan, selagi ada yang perlu dikerjakan, ya dikerjakan. Yang penting halal untuk pemasukan sehai-hari. Yah, Ibu banyak ikhtiarnya dan aku salut, tapi lebih sering aku yang banyak protes terhadapnya.

Masih terekam jelas saat momen ini kebetulan lagi libur kerja


Namun, sifat-sifat itu sedikit pudar seiring berjalannya waktu. Ibu tetap sulit dengan ijinnya jika aku ingin pergi kemana pun. Dan kini aku mencoba memahaminya, dan berbicara dari hati ke hati ketika diperlukan. Seakan-akan aku tumbuh dewasa sebelum waktunya. GlekK!!!

“Aku bingung mau tanya ke siapa, soalnya nggak ada yang didengerin itu,” kata Ibu di sore hari yang syahdu.

Tatkala beliau mengatakan hal itu kepadaku karena kena marah sama Kakak perempuanku, aku sedih, benar-benar pingin nangis seketika. Ya Allah, kenapa baru kali ini aku dibukakan mata hatiku. Iya, Ibu nggak ada yang dengerin keluh kesahnya. Beliau hanya memanfaatkan keluhannya di depan-Nya sehabis Isya’ dan menjelang Subuh tatkala aku terlelap tidur. Kenapa aku tega membiarkannya memahami diriku tanpa sedikit pun aku memahaminya.

Ettdahh... ya begitulah sosok wanita tersayang yang amat berpengaruh buatku. Karena itulah, quote  di atas itu begitu menggambarkan sikapku yang terbentuk karena didikan seorang Ibu. Yah, seorang Ibu yang berarti buatku, seperti cuplikan video berikut ini gaes. Please, kalau kisahku ini membuat air mata kalian jatuh, tapi benar-benar nggak niat kok, hanya sebagai inspirasi, secercah pengalaman hidup yang ingin kubagikan bersama kalian. Hehehe...



Demi membahagiakan Ibu, aku pernah loh disindir sama beliau gara-gara hampir seminggu aku dikirimi paketan. Sampai-sampai pak posnya udah waleh2 denganku. Sedangkan Ibu protes, “Mbok ya sekali-kali hadiahnya buat aku, ngunu tah. Panci-panci atau apa, gitu.” Kira-kira begitulah ucapan beliau sore itu. Sontak diriku tertawa lepas sembari membalas permintaan beliau itu. “Soalnya yang kuikuti itu hadiahnya bukan panci, rice cooker gitu loh Mak,” sontak tawa lepas kembali membuncah bersama hanya berdua. Hehee... 


Semoga saja, kalau kontes di Elevenia ini bisa nyantol, bukannya berharap tapi berusaha sebaik mungkin lah ya. Aku ingin menghadiahkan sesuatu yang teramat sangat Ibu harapkan. Salahsatu di antaranya, ada Panci set, blender, sekaligus Radio.

Elektronik dan Perlengkapan Rumah yang pas untuk Ibu

Panci Set Oxone Eco OX-933 - Cookware Set - Alat Masak

Aku milih panci, karena memang itu requestnya beliau sendiri secara spontanitas terucap di depanku, hehhee... . Sengaja kucarikan panci set yang banyak, supaya beliau lebih mudah saat masak yang beraneka ragam. Sedangkan blender itu salahsatu alat masak yang bisa membantu Ibu tatkala membuat bumbu-bumbu yang intensitasnya banyak, atau jus yang biasa dibuat secara manual dengan dipotong kecil-kecil saja. Kupilih yang produk dari Miyako, karena merupakan perusahaan lawas namun kualitas nggan diragukan ya gaes. hehee

MIYAKO BLENDER / BL-101PL

Selanjutnya, ada Radio. Salahsatu barang elektronik secara tersirat yang diinginkan Ibu. Radio bisa membuat beliau mengetahui dunia luar, bahkan berita yang sedang trending topic di kota Jember bisa didengarnya lewat Radio.

Kok nggak dari televisi aja?


Seumur-umur di rumah kami belum punya televisi dari orok. Pernah waktu itu dititipin televisi saat kakak pergi ke Lampung, setelah dia balik ke Jember, ya televisinya dibawanya kembali ke rumah. Sedangkan Radio selalu menemaninya dari pertama kali bangun, mendengarkan tilawatil qur’an, mendengarkan berita di pagi hari, dangdut mania, hingga sore hari, ada siraman ruhani, maupun mendengarkan pengajian atau nasyid-nasyid lawas yang bersenandung ria di telinga. Sampai-sampai Ibu ikut menyanyikan lirik lagu itu. Seperti lagu langitan, dan masih banyak lagi.

Asatron Radio Kaset Tape CR-1568 USB

Radio terakhir yang kumiliki hasil pembelian kakak pertamaku sepulang dari Saudi Arabia, dan rusak total, sehingga dihibahkan ke Mas Rosokan dekat rumah. Nah, bentuk radio pertamaku itu mirip Asatron Radio ini. Tapi lebih panjang dan warnanya lebih hitam dari punyaku. Tapi, kalau dapatin radio ini pun, aku nggak bakal nolak kok. Itu pun demi Ibu. Hehehe...

Semoga saja, harapanku untuk memberikan Hadiah Spesial untuk Orang Tersayang ini bisa diijabah oleh-Nya, terutama oleh pihak Elevenia. Amin...

Kenapa aku begitu antusias dengan Elevenia, karena memang ternyata harganya lumayan terjangkau, gaes. Kalau kalian belum tahu, Elevenia3 itu salahsatu situs belanja online dengan konsep open marketplace  di Indonesia yang memberikan kemudahan dan keamanan dalam berbelanja. Dalam satu tahun nih ya, Elevenia mampu menggapai 1 juta pengguna dan mengirim lebih dari 400.000 ribu produk. Wihh.... itu mah kece badai ya, gaes. Semoga di tahun-tahun berikutnya, Elevenia bisa mendapatkan target pendapatan yang lebih besar lagi ya, apalagi dalam mempromosikan produk lokal dalam Negeri, iya, kan? Hehee...

Mau tahu lebih detail dengan siapakah Elevenia, dan bagaimana tata kerja mereka? Yuk mari intip gambar berikut ya gaes...

Siapakah Elevenia itu?
Konsep E-commerce dari Elevenia

Kenapa harus Elevenia?

Kalau kata iklan-iklan di televisi saat nonton di rumah Mbak, begini.
Elevenia,
Klik, Cari, Hepi.
Mudah kan... hheee
Asal cek terlebih dahulu saldo rekeningnya ya gaes, hehehee

Semoga dari apa yang ku bagikan kali ini bisa bermanfaat untuk kita semua, khususnya bagi diriku sendiri. Jika mungkin ada yang ingin berbagi dengan sosok wanita yang berpengaruh di rumah kalian, yuk mai sharing. Tentunya, feel free lah ya buat komentar. Hehee

~ Happy Blogging ~



Karangduren, 5 April 2017-04-05

Khoirur Rohmah
Sumber Referensi :
1 www.goodreads.com
2 https://www.id.wikipedia.org   
3 www.elevenia.co.id
4 Infografis dari website resmi Elevenia dan edit by www.rurohma.com

 

You Might Also Like

48 komentar

  1. wah semoga bisa memberikan ayng terbaik buat ibu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya robbal alamin...
      Terima Kasih Mama Tiraa
      :D

      Hapus
  2. Wah, kalau sampai beneran bisa kasih tiga hadiah tadi ke ibu pasti seneng banget. Sukses ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhheee iya mbak...
      JAdi kangen dipeluk klo bisa wujudin itu heheee

      Hapus
  3. Seorang ibu memang selalu memikirkan masa depan anaknya. Tak pernah mengenal lelah untuk kebahagian anak-anaknya.

    Semoga ibu bahagia dg hadiah spesialnya, dan kamu jeng, keep spirit terus untuk membuatnya selalu tersenyum :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kadang kita malah sulit mengartikan jika mereka brsikap dmikian krna utk kbaikan kita,

      Amin Allahumma amin...
      samen juga mbak Erii... hheee

      Hapus
  4. Semoga hadiah buat ibu bisa terealisasi mba ^^ berbicara kasih sayang ibu memang tak ada habisnya :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya robb...
      Terima kasih Mbak Vita
      Benar sekali, mbak :D

      Hapus
  5. aamiin semoga terijabah y Mba kasih buat Ibunya :)
    gudluck lombanya mba ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya robbal Alamin
      Suwun Mama Nameeraa :*

      Hapus
  6. dibalik semua larangannya, memang selalu ada niatan baik untuk kita
    itulah orang tua :)

    semoga barang impiannya bisa terwujud buat hadiah ma'e - aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mas. Tapi kadang tetp ngeyel aja kalo apa yg mereka lakuin itu salah, hihihii
      Amin allahumma Amin
      Terima kasih :D

      Hapus
  7. Betuull sekali.. Sebenarnya ibu melarang anak itu karena dia sayang dan perhatian sama kita^^.. semoga kesampaian ya mba kado panci, blender, dan radio untuk ibunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhee iya mbak.
      Terima kasih Mbak Dina
      Amin ya robbal alaminnn :D

      Hapus
  8. Betuull mba, ibu melarang itu sebenarnya wujud rasa sayang dan perhatiannya kepada kita.. semoga kesampaian ya mba kado untuk ibundanya^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak...
      Amin ya robbal alaminnn
      Terima kaish Mbak Dina :D

      Hapus
  9. jadi teringat dengan ibu dikampung, semoga menang ya neng. :)
    dan hadiahnya yang baik untuk ibu , neng. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya Robbal Alaminn... Terima kasih
      Terntu, :D

      Hapus
  10. Liat video nya jadi sedih ih, berasa lagi di acara motivasi2 gitu. Jadi inget sama emk di rumah. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhhee segera telfon atau kabari emaknya :D

      Hapus
  11. kasih sayang ibu gak ada duanya.... biarpun mereka bawel luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkwk bener bener banget, mas :D

      Hapus
  12. jadi baca ini jadi ingat emakku, yang sat ini juga sedang sakit. semoga kita bisa menjadi anak yang sholeh dan ikhlas

    BalasHapus
  13. jadi baca ini jadi ingat emakku, yang sat ini juga sedang sakit. semoga kita bisa menjadi anak yang sholeh dan ikhlas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga lekas sembuh buat emaknya, ya Mbak Milda :*
      Amin ya robbal alamiiinn...

      Hapus
  14. Amin, semoga terijabah ya mbak hadiah buat mae.
    Sama mbak, pas almarhumah umiku hidup, aku juga susah kemana-mana mbak. nggak diizinin juga hehe :D Orang tua ngelarang pasti ada alasannya ya kan mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehhee iya mbak, tentu
      ga ujug-ujug ngelarang gitu aja sih,
      cuman biasanya akunya yg berontak :D

      Hapus
  15. Saya juga stress kalau ibu yang melarang jalan, kalau bapak sih biar aja.
    Eh, si Rohma keren euy ada videonya, bikin terharu

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkk... kalau aku malah nggak banyak yg setuju kalau aku jalan2 mbak. hheee
      hihihi, ungkapan hati yg sebenarnya mbak hehee :D

      Hapus
  16. Buat ibu apa sih yg enggak diberikan. Betul kan mbk? Moga aja ibu selalu sehat ya mbk.impiannya terwujud

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhee iya nih mbak :D
      Amin allahuma Aminn..
      Terima kasih Mbak, ^_^

      Hapus
  17. anak baik, semoga ibu sehat selalu, dan hadiah untuk ibu tercapai ya Rohma, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih jauh dari kata baik, Mbak Ev -_-
      Amin ya robbal alamiiinnn
      Trima kaish Mbak Evrinaa

      Hapus
  18. Mbak Khoirur...keren bgts tulisannya. Aku jadi inget ibuku nih hiks...sebab blm bs ksh apa2 sm beliau. Smg terwujud ya cita2 mbak kasih hadiah buat ibunya. Slm kenal. Aku sdh follow ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Nurul,
      amin ya robbal alaminn...
      Salam kenal juga Mbak,e
      Siap follback yah mbak :D

      Hapus
  19. Semoga terwujud hadiah buat ibu. Saya percaya bahwa yang dikatakan beliau, meski itu terlihat seperti larangan, namun sejatinya untuk kebaikan kita, sebagai wujud kasih sayang dan perhatian. Sayangnya termasuk saya seringkali salah paham.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.eh mbak... kitanya yg kerap kali salah paham dalam menafsirkan bntuk kasih sayang mereka, yg dianggap sbgai larangan itu.
      Amin Allahumma amin
      Terima kasih mbake :*

      Hapus
  20. Kado spesial untuk orang tercinta khususnya orang tua, selagi mereka masih ada, apa salahnya memberikan hal yang terbaik. salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, mas
      Selagi mampu dan ada rezeki, kenapa tidak.
      Salam kenal juga ^_^

      Hapus
  21. Ibu memang tahu yang terbaik untuk anaknya, walaupun kita kadang salah sangka maksud dari kebaikan itu, seringkali kita berfikir dia mengekang kebebasan kita.

    BalasHapus
  22. goodluck Mba Rohma, semoga niat mulia untuk membahagiakan ibunya diijabbah Allah, aamiin..

    BalasHapus
  23. Semoga terkabul ya Rohmah, dan memang cerita kita dgn orang tua itu tak ada habusnya dan tak lekang oleh zaman. Di satu titik, kita bakal ngerti sih emang ya kenapa mereka berbuat seperti itu :)

    BalasHapus
  24. Di satu titik, emang kita bakal merasa kenapa ortu bersikap seperti itu, dan disitulah kita juga belajar. Smg terkabul ya :)

    BalasHapus
  25. Semoga terkabul memberi hadiah buat ibu tercinta. Duh jadi naksir juga sama panci2 nya :)

    BalasHapus
  26. Amin... Moga terwujud ya mbaa Rohma
    Salam kenal juga ^^
    Selagi masih ada ibu, bener2 masih bahagia ya mba. Doanya ngalir teruss

    BalasHapus
  27. semoga menang ya.... salam buat mae... semoga sehat selalu

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Me

Jika ingin mengontak saya untuk keperluan publikasi, kerjasama, ataupun pertanyaan lain tentang blog ini bisa dengan mengirim email langsung ke rurohma95@gmail.com.
Terima kasih -
Copyright by Khoirur Rohmah
Fastabiqul Khoirots

Like us on Fanpage

Kicauan Saya