‎ ‎
personal lifestyle blogger jember

Review Dorama : Survival Family (2016), Mampukah Kamu Bertahan Hidup Tanpa ‎Teknologi?‎



Bismillaahirrohmaanirrohim

Halo sobats, sudah lama sekali aku nggak menuliskan review film yang sudah aku tonton. ‎Karena sering nonton, lalu jarang menuliskannya dalam bentuk postingan. Nah, kali ini aku ‎akan membagikan ringkasan cerita dari drama Jepang yang berjudul Survival Family. Oke ‎berikut detail ceritanya ya sobs... lets check this out....‎


Review Dorama : Survival Family(2016)‎


Judul : Survival Family

Sabaibaru Famiry

Genre : Survival, Apocalyptical, Family

Origin : Japan

Duration : 1hour, 57 minutes


Main cast :‎

Fumiyo Kohinata as Yoshiyuki Suzuki, Ayah

Eri Fukatsu as Mitsue Suzuki, Ibu

Yuki Izumisawa as Kenji Suzuki, Kakak Laki-Laki

Wakana Aol as Yui Suzuki, Adik Perempuan


Mampukah Bertahan Hidup? Review Drama Jepang Survival Family



‎“Terjadi di zaman modern seperti ini benar-benar keterlaluan,” – Ibu-ibu apartemen

‎“Nggak nyaman banget kalau mati listrik,”‎


Kebayang nggak sih kalau di tempat kamu mengalami pemadaman listrik, pasti ada banyak ‎drama yang terjadi. Apalagi pas belum kelar mengerjakan tugas, dan lupa menyimpannya. ‎Auto mengulang dari awal lagi, kan? Sedang masak nasi? Bisa jadi masih berupa beras tuh. ‎Atau pas baterai gawai tinggal dikit, buru-buru cari powerbank kalau kebetulan udah di cas, ‎tapi kalau belum? Nah gimana kalau kita mengalami kejadian alam yang nggak hanya ‎pemadaman listrik, tapi nonaktifnya teknologi jenis apapun itu yang erat kaitannya dengan ‎kehidupan modern seperti saat ini. ‎


Film ini dibuka dengan suasana Jepang yang terkenal akan kecanggihan teknologi dengan ‎kota yang ramai, perkantoran dengan para karyawan yang sibuk bekerja, dan akhirnya latar ‎pun difokuskan pada salahsatu keluarga Suzuki.‎


Yang mana ada ayah yang tengah menonton televisi, anak perempuan yang meremehkan ‎makanan segar yang asing baginya lalu sibuk dengan gadgetnya, kemudian ibu yang tengah ‎telfon dengan kakek atau ayahnya karena baru saja membuka kiriman dari desa. Namun ibu ‎tidak bisa mengolah paket yang berisi ikan, dan sayuran segar tersebut. Yang akhirnya ‎disimpan di kulkas. Disusulkehadiran anak laki-laki sepulang kuliah dengan headset dan ‎gawainya membawa makanan cepat saji lalu sibuk dengan komputernya.‎


‎“Rumit juga ya meskipun tanpa pestisida itu bagus,” – Ibu.‎

‎“Pulang ke rumah untuk makan, tapi malah beli junkfood,” – Ayah.‎


Tanpa disadari, keesokan harinya ayah telat bangun, gawai milik Yui mati, nasi yang ibu ‎masak masih berupa beras karena rice cooker mati, menghangatkan makanan pun tidak ‎bisa, dan banyak bahan makanan yang telah basi. Bukan hanya itu. Segala hal yang ‎menggunakan teknologi tidak dapat digunakan sama sekali. Seperti jam weker, kompor ‎gas, kendaraan, ATM, dan lainnya. ‎


Ayah, dan kedua anaknya tersebut segera berangkat ke tempat masing-masing. Sedangkan ‎ibu berjuang dengan tugas rumah tanpa listrik. Ternyata di luar apartemen pun banyak ‎orang yang mendatangi stasiun kereta api yang tidak dapat berjalan untuk mengantarkan ‎para penumpang yang bergerombol baik ke kantor maupun sekolah.‎


Kenji yang berangkat kuliah dengan mengendarai sepeda merasa keheranan, mengapa ‎banyak orang berlalu lalang dengan berjalan kaki, mobil tidak berfungsi, dan saat di pinggir ‎jalan dia menemukan orang yang mencoba menghidupkan mobilnya, tapi tetap tidak bisa. ‎


‎“Di saat seperti ini, punya sepeda rasanya bagus juga,” – Kata bapak yang tengah ‎memperbaiki mobilnya.‎


Di sekolah, Yui dan teman-temannya mengeluh karena listrik mati. Guru pun tidak masuk ‎dan kelas kosong. Pusat perbelanjaan ramai berdesakan orang-orang mengantri membeli ‎bahan makanan seperti kebutuhan pokok berupa air salahsatunya yang juga dibeli Mitsue. ‎Namun stoknya banyak yang sudah habis. Bahkan bagian kasir memberitahukan kepada ‎pembeli bahwa ATM tidak berfungsi, dan diharuskan membayar dengan uang tunai.‎


Keadaan kantor di tempat Ayah bekerja kacau balau, karena pintu masuk tidak bisa dibuka, ‎sehingga harus dibuka paks. Eskalator mati, saat sampai ruang kerja pun para karyawan ‎mencoba menyalakan komputer tidak bisa. Sehingga kepala kantor meminta kepada ‎karyawannya untuk pulang saja. ‎


‎”Semua yang berkaitan dengan listrik pada mati. Kelihatannya ini bukan pemadaman ‎listrik,” – ucap salahsatu karyawan.‎


Hingga malam pun tiba, keluarga Suzuki tengah makan dengan diterangi lilin. Ayah yang ‎gila bekerja tetap membawa pekerjaannya ke meja makan, sampai kena marah ibu. Malam ‎di hari pertama tanpa listrik dilewati mereka dengan makanan yang seadanya.‎


‎”Disaat seperti ini, jangan bawa pekerjaan pulang ke rumah,” – Mitsue Suzuki


Karena keadaan kota Jepang tanpa listrik, langit malam semakin terlihat jelas. Hal itulah ‎yang juga menyita perhatian Mitsue yang kemudian memanggil suami, dan kedua anaknya ‎untuk melihat bintang yang terlihat terang di atas sana. Berbeda halnya saat sebelum ada ‎fenomena alam tersebut.‎


‎”Malam ini bintangnya indah sekali,” – Ibu

‎”Tidak ada cahaya, makanya terlihat,” – Ayah

‎”Terkadang, ini juga bagus,” – Ibu


Di hari ketiga tanpa listrik dan teknologi, disambut dengan Mitsue yang mencuci baju ‎menggunakan air mineral dan menjemurnya di dalam rumah. Anak-anak di sekolah sibuk ‎dengan buku bacaan mereka, sedangkan atasan tempat Suzuki bekerja dan keluarganya ‎memutuskan akan pergi ke gunung.‎


‎”Pertama, aku akan ke gunung yang ada airnya, aku tahu tempat berkemah yang bagus,” – ‎Atasan Suzuki


Banyak warga sekitar apartemen tempat ibu tinggal dalam keadaan cuaca dingin rela ‎mengantri air untuk konsumsi mereka. Tapi petugas di sana mengatakan kalau di bawah ‎memang ada air tapi mesinnya tidak dapat bekerja. ‎


Karena alat transportasi tidak dapat berfungsi, otomatis sepeda lah yang menjadi incaran ‎para warga, termasuk ayah yang rela membeli sepeda sebelum ada orang lain yang akan ‎membelinya. Kemudian Suzuki ke bank untuk mengambil uang, tapi ternyata antrian sudah ‎mengular dan berdesak-desakan. Namun sayangnya, bukan uang yang didapat, tapi hidung ‎berdarah karena dorongan dari para antrian dan kertas kerjanya juga ikut keinjak massa. ‎


Hingga di hari hari ke tujuh, jalanan di kota Tokyo sepi layaknya kota mati, tidak ada ‎ktivitas, sampah berserakan, supermarket kotor dan stok barang habis, sekolah diliburkan, ‎persediaan yang menipis, orang-orang berbondong-bondong meninggalkan tempat tinggal ‎mereka menuju sumber mata air dengan membawa perbekalan masing-masing. Termasuk ‎yang dilakukan keluarga Suzuki, saat berkumpul dengan penghuni apartemen terkait tetap ‎tinggal di Tokyo, atau pergi ke tempat lain yang tersedia bahan makanan.‎


Jika tidak kembali hidup, pastinya tidak akan bertahan. Tidak kah kau memikirkannya?,” –‎Ayah

‎”Ini adalah uang yang kusimpan untuk keadaan darurat,” – Ibu ‎


Akhirnya Keluarga Suzuki memutuskan meninggalkan apartemen, dengan tujuan tempat ‎tinggal kakek atau ayah dari Mitsue yang berada di Kagoshima, yang jaraknya sekitar 250 ‎mil. Dengan berbekal 3 sepeda untuk Yui, Kenji, Ayah berboncengan dengan ibu, mereka ‎memulai perjalanan mereka di pagi hari buta, saat penghuni apartemen belum bangun.‎


‎”Lama sudah tidak bepergian mengendarai sepeda,” – Ibu

‎”Tetap tinggal di tempat yang tidak ada air dan makanan pastinya lebih berbahaya,” – Ayah


Nah, selanjutnya film ini menyorot bagaimana keluarga Suzuki bisa tetap bertahan hidup ‎selama di perjalanan. Dari menginap di hotel yang tidak airnya dengan biaya sewa yang ‎mahal, menentukan arah jalan berbekal peta dari buku yang didapat  dari toko buku, barter ‎barang dengan kebutuhan pokok, seperti air dengan beras. Sedangkan barter yang ‎dilakukan Mitsue dan Suzuki berupa 2 buah botol arak yang ditukar dengan sekarung beras, ‎dan sepeda yang tidak lagi berfungsi. ‎


‎”Di jaman dahulu, jarak seperti ini tidaklah seberapa,” – Ayah

‎”Kemewahan tidak cukup untuk membuat perut kenyang,” – Ibu penukar barang


Sepanjang perjalanan banyak hal yang ditemukan, termasuk kedekatan antara anak dan ‎ayah juga diuji, yang akhirnya jadi semakin dekat ketika mengarungi ujian tersebut. ‎Bertemu orang baru seperti keluarga yang juga berpindah tempat dengan mengendarai ‎sepeda dan bertahan dengan makanan seadanya yang ada di alam, yang mana keluarga ‎tersebut juga membawa kamera.‎


Survival Family, Keluarga yang Bertahan Hidup
Bertemu keluarga lain yang juga survive dari fenomena alam tersebut



Bertemu kakek pemilik rumah yang mempunyai binatang peliharaan yang berbagai macam, ‎yang akhirnya memberikan pelajaran dan pengalaman baru baik untuk Suzuki, Mitsue, Yui, ‎dan Kenji. Dari pengolahan daging binatang, ikan, cara memasak secara tradisional, dan ‎masih banyak lainnya.‎


Masih ada drama juga saat menghadapi hujan dan angin, ketika ayah sakit perut, banyak ‎barang bawaan keluarga tersebut raib ke bawa angin, sepeda juga ikut rusak. Selain itu, ‎ketika akan menyeberang sungai, ayah juga sempat kebawa arus deras sungai saat ‎menyeberangkan ibu dan Yui. ‎


Dorama ini benar-benar mengajarkan banyak hal. Termasuk bagaimana caranya supaya ‎tetap bisa bertahan hidup tanpa menggunakan teknologi, dan kembali ke alam, kembali ‎pada tata cara jaman dulu, yang serba konvensional. ‎


Pergejolakan batin antar tokoh juga diuji di sini, Kenji, Yui, dan Ayah yang saling berdebat, ‎ibu yang tetap bisa mencairkan suasana orang terkasihnya hingga bisa sampai ke tempat ‎tinggal ayahnya. Kekompakan keluarga, dan juga kerjasamanya erat sekali.‎


Kebayang nggak sih kalau kita seharian aja mati lampu, pasti udah kelabakan. Terbiasa ‎dengan apa-apa teknologi, tetiba mati lampu, jadi gerah tidak bisa menyalakan kipas, gawai ‎mati. Udah pasti banyak hal yang dikeluhkan tentunya. Nah ini selama berhari-hari tanpa ‎teknologi dan listrik. Sampai-sampai terdengar bunyi jam weker di desa, seluruh warga bisa ‎mendengarkan. Hal itu juga membuat kaget banyak orang saat mendengarkannya.‎


Sampailah pada berita bahwasanya fenomena alam yang terjadi itu diakibatkan karena ‎jatuhnya komet di sekitar Tokyo yang mengakibatkan segala benda yang berhungan dengan ‎listrik menjadi mati. ‎


Pelajaran yang bisa diambil dari Dorama Survival Family ‎


‎1. Jangan Terpaku dengan Teknologi‎

Memang teknologi membuat kita semakin dimudahkan. Meski demikian, kita tetap perlu ‎mempelajari dan tidak melupakan hal-hal yang berkaitan dengan alat tradisional. Who ‎knows ada satu saat yang membuat kita akhirnya membutuhkan skill dalam menggunakan ‎alat-alat tradisional nantinya.‎


‎2. Pentingnya Dana Darurat‎

Yang membuat aku takjub dengan keputusan Mitsue yang ternyata menyimpan banyak uang ‎yang tanpa diduga Suzuki, Yui, dan Kenji dengan nilai besar. Kegunaannya untuk dana ‎darurat yang sewaktu-waktu ada keadaan mendesak dan darurat bisa digunakan, seperti ‎saat akan melakukan perjalanan tersebut. Makanya kalau kata praktisi keuangan, ‎dianjurkan memiliki dana darurat dari 12x uang gaji. ‎


‎3. Harta yang Paling Berharaga adalah Keluarga‎

Bagaimana pun keadaan kita, keluarga adalah tempat kembali. Dan dalam suasana apapun ‎keluarga bisa menjadi tempat terbaik. Sama halnya dengan keluarga Suzuki yang saling ‎bekerja sama untuk tetap bisa bertahan supaya tidak kelaparan dengan mencari makanan.‎


‎4. Mempelajari Hal-Hal Tradisional

Kita tentu tahu bahwa nenek moyang kita suka berpindah-pindah tempat dan dapat ‎menyesuaikan diri dengan sekitarnya untuk tetap bertahan hidup. Seperti Mitsue yang ‎awalnya tidak bisa mengolah daging segar, dan terbiasa hal-hal instan. Jadi tahu cara ‎pengolahan ikan secara tradisional.‎


‎5. Menciptakan Kedekatan Antara Anggota Keluarga

Karena fenomena alam inilah, membuat hubungan ayah dan anak menjadi dekat. Hal itu ‎terbukti saat ayah yang mencoba menyeberangkan Yui dan Mitsue melalui sungai, lalu Kenji ‎juga berhasil menyeberang, tapi sayangnya Suzuki malah kebawa arus. Yang membuat ‎anak-anak dan istrinya sedih. Se-egois apapun ayah, mereka tetap menyayanginya. ‎


‎6. Mampu Bertahan Hidup dalam Keadaan Apapun

Akhirnya keluarga Suzuki berhasil sampai ke Kagoshima yang mana mayoritas penduduknya ‎petani dan nelayan dengan menggunakan alat yang serba manual. Di sinilah Suzuki, Mitsue, ‎Yui, dan Kenji bertahan hidup hingga terdengar suara jam weker berbunyi, kemudian ada ‎sirine pedesaan yang disambut dengan sukacita.‎


Kesimpulan

Buat kamu yang lagi mencari Drama Jepang yang bisa ditonton untuk keluarga, aku ‎rekomendasikan dorama Survival Family ini. Syarat akan makna dan bisa menjadi ‎pembelajaran untuk anak, maupun pasangan. Bahkan menonton untuk kedua kalinya pun ‎tidak akan ada bosannya.‎


Dari review ini, insight apa yang sobats dapatkan? Apalagi tanpa teknologi, tanpa listrik, ‎menggunakan hal-hal tradisional, tidak ada lagi yang instan-instan? Coba komen di bawah ‎ya.‎


Semoga artikel review Dorama Survival Family, Mampukah Kamu Bertahan Hidup Tanpa ‎Teknologi ini, bisa bermanfaat yah sobats. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar kamu, ‎feel free to drop your comments,‎


‎~Blessed‎

Khoirur Rohmah.‎


26 komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^
  1. Ide ceritanya menarik ya. Kalau listrik mati atau air mati termasuk kalau internet mati memang jadi menyebalkan. Kehidupan saat ini memang terikat sekali dengan teknologi. Aku jarang banget nonton dorama, lebih sering anime. Baca review ini, jadi pengen nonton juga. Thanks rekomendasinya mba.

    BalasHapus
  2. aku ga kebayang sih naik sepeda dari tokyo ke kagoshima wkwkwkwkwkwkw.... aku pernah naik dari tokyo ke kagoshima naik Shinkansen yang kecepatannya peluru aja, masih harus 7 jam :D. apa kabar ya naik sepeda :D. seru sih ini kayaknya mba.. jd pengen nonton juga. kalo skr ngebayangin hidup tanpa teknologi, rasanya susah banget yaaa. aku pernah rasain terputus koneksi dengan dunia luar krn semua sinyal mati, saat liburan ke Korea Utara. tapi setidaknya masih ada listrik di hotel. yg bener2 ga bisa diakses hanya telp dan internet. kalo cuma 5 harian ya asik2 aja, ga ribet ama urusan kantor ;p. tapi kalo selamanya begitu, stress sih hahahaha. jadi makin rusuh kalo sampe listrikpun mati mungkin ;p

    BalasHapus
  3. Ini pesan moralnya kuat sekali, Mbak Rohma. Hanya karena listrik, maka semua akan kacau. Soalnya selama ini, banyak yang pemborosan listrik. Selain pesan utama, juga banyak sekali pesan-pesan yang bisa diambil.

    Saya langusng penasaran ingin nonton ini. Nanti akans egera saya cari. Terima kasih, Mbak Rohma.

    BalasHapus
  4. boleh nih drama, aku terfokus pada pentingnya dana darurat, ini sesuatu yang sangat krusial. Sebab dengan menyiapkan sedini mungkin ketika ada kejadian kita sudah siap menjalani

    BalasHapus
  5. Wah menarik juga, pernah sih ngebayangin kalau kita hidup tanpa teknologi jangankan berlama-lama mati lampu atau internet mati sehari saja sudah merasa sangat membosankan. Tapi, dibalik itu semua pasti banyak hikmahnya sih bisa dijadiin pelajaran. Thanks kak sudah berbagi.

    BalasHapus
  6. Di tengah perkembangan yang serba digital ini, hadirnya teknologi memang sangat membantu. Tapi setidaknya, kita tidak melupakan menggunakan alat-alat tradisional yang dimiliki. Saling melengkapi.

    BalasHapus
  7. Jadi ingat waktu aku ke Boscha dijelaskan mengenai polusi cahaya yang membua sekarang bintang-bintang jarang terlihat.
    Bagi yang sudah ketergantungan dengan teknologi termasuk listrik rasanya akan menhgalami kesusahan untuk beradaptasi lagi ya.
    Dorama Survival Family ceritanya bagus juga mengajarkan kita bagaimana untuk bertahan hidup

    BalasHapus
  8. Habis nonton film ini pasti semua membayangkan gimana kehidupan masing-masing kalau keadaan sekarang kayak film tersebut. Bisakah bertahan atau malah menyerah di tengah jalan

    BalasHapus
  9. Survival Family ini juga mengingatkan aku pada film produksi barat dengan judul "Into The Forest". Ketika listrik mati total, maka ada banyak hal tidak terduga. Bahkan, mungkin karena genre film itu (saya agak lupa itu masuk film horor apa thriller ya), ketiadaan listrik juga bisa menimbulkan kriminalitas.

    Tapi Survival Family ini sepertinya lebih punya banyak hikmah buat penonton ketimbang fil produksi barat tadi. Keren reviewnya mba...

    BalasHapus
  10. yang aku ambil dari film ini dengan adanya teknologi yang dekat menjadi jauh, yang jauh menjadi dekat. Setelah hidup tanpa teknologi barulah terasa banget kedekatan keluarga jauh lebih berharga

    BalasHapus
  11. Wah, kayak Drakor Dorama juga memikat ya Mbak. Aku sepakat dengan semua pelajaran yang Mbak tulis. Teringat sama traveler yang bilang bahwa kita bisa hidup tanpa gagdet tapi ga bisa tanpa hutan. Beda konteks tapi mirip bahwa kecekapan tradisional dalam memanfaatkan kekayaan alam sering malah kita butuhkan seandainya teknologi ga mencukupi atau mentok. Asal ada keluarga, insyaallah semua bisa diupayakan, dicari solusinya, setidaknya selalu bersemangat!

    BalasHapus
  12. Pas baca judulnya, aku kira review aplikasi atau buku mbak. Eh ternyata drama Jepang ya wkwk

    Baru tahu aku loh kalo mbak rohma suka drama jepang

    BalasHapus
  13. Ceritanya menarik ini ya. Udah lama nggak nonton film, kudu nonton nih. KArena relate banget dengan kondisi kita ya.

    Auto ngebayangin kalau kita seperti itu akan gimanaaaa.....

    BalasHapus
  14. Menurut saya drama Survival Family ini sangat menarik. Bagaimana tidak, di Jepang, yang apa-apa serba teknologi, tiba-tiba listrik mati. Tentu bikin kalang kabut masyarakatnya. Dan memaksa mereka untuk pergi dengan bekal seadanya.

    Bener banget, drama ini sarat akan makna, bisa untuk mengedukasi keluarga kita untuk bertahan hidup atau pun mencoba kembali melakukan hal-hal tradisional.

    BalasHapus
  15. Teknologi memang bermanfaat ya bagi kita,

    dari tayangan tersebut jadi tambah hikmah lagi buat kita agar nggak terlalu ketergantungan dengan teknologi. Ini reminder banget

    BalasHapus
  16. Setelah baca review film dorama ini kayaknya asik juga di nonton aplg Genrenya family. Jd penasaran ending kisahnya

    BalasHapus
  17. Saya baca serita dramanya dari awal sampai akhir sambil membayangkan jika saya yang mengalami peristiwa seperti itu. Duh, kebayang sulitnya. Biasa hidup dengan listrik, kalau tanpa listrik pastinya banyak yang terhambat

    BalasHapus
  18. Saya jarang nonton dorama sih. Hampir nggak pernah malah tapi baca review dorama ini langsung tertarik dan penasaran pengen nonton. Kayaknya seru nih. Well saya nggak bisa bayangkan saja kalau hidup dengan kondisi semua yang membutuhkan listri gak berjalan. Baru setengah hari saja udah kelabakan apalagi sampai berhari-hari seperti alur cerita di drama ini.

    BalasHapus
  19. tau nggak kak pas aku baru buka reviewnya aku langsung bilang ke si mas : aduh baru pasang wifi, eh dapat rekomendasi film. oh tidaaaak aku tidak mau teracuni
    tapi baca reviewnya sih : OK GUE HARUS NONTON.
    sepertinya sangat membangun bonding antar anggota keluarga ya kak

    BalasHapus
  20. Soal dana darurat ni beneran bikin panas dingin. Jujur aja saya nih gak ahli dalam menyingkirkan dana darurat. Jadi tiap nonton film keluarga atau baca review buku bertema keluarga dan menyentil soal dana darurat gitu, rasanya selalu, "Mak deg! Kok saya banget". Selain itu rasanya saya udah gak mungkin hidup tanpa teknologi. Mungkin seminggu sampai sebulan masih bisa ya. Selebihnya udah gak kuat. Nyerah saya.

    BalasHapus
  21. iya ya gak kebayang nih kalau teknologi mati apalagi sekarang apa apa serba teknologi, jaringan internet down sebentar aja bikin ribut dunia persilatan ^_^

    BalasHapus
  22. Menarik sekali tema yang diangkat pada film ini, ga kebayang di zaman sekarang kita bisa hidup tanpa teknologi digital.
    Bangun tidur aja yang dicari handphone dan langsung nyalakan televisi :)

    BalasHapus
  23. Belum sempat beralih ke Dorama selain Tokyo dan cerita chef (lupa judul)
    Baca di atas jadi tertarik

    BalasHapus
  24. Dewi lama enggak nonton drama jepang, dan sekarang jadi kangen deh mbak.... Kayaknya survival family pilihan yang tepat untuk memulai nonton.😍

    BalasHapus
  25. Hmm, ketika teknologi bisa saja "hilang" suatu saat, berarti kita musti bisa kembali menguasai survival skill ala manusia purba ya Mba... Hidup dari pertanian, meramu makanan, membangun tempat tinggal dari bahan-bahan alami dll.

    BalasHapus
  26. Oh yaampun, saat ini gabisa bayangin sih idup tanpa teknologi. Kalau data mati krn efek dr mati listrik aja suka cengo mau ngapain, tp kalau udh survival yg di alam gini psti bakal beda lagi ya, alias utk manusia modern pasti belajar dr nol dulu. Seru neeeh sepertinya doramanya :D

    BalasHapus

Chingudeul