‎ ‎
personal lifestyle blogger jember

Dilema Ban Motor Biasa atau Tubeless, Akhirnya Pilih Mana?

Ban Motor Biasa atau Tubeless
Ban Motor Biasa atau Tubeless Ya?


Bismillahirrohmanirrohim

Halo Sobats

Menurutmu, kalau ban motor hampir selalu bocor tiap bulannya itu wajar nggak sih? Apalagi ‎waktunya berdekatan gitu. Nah, kalau pas lagi di kota masih nggak bermasalah misalkan mau ‎cari tempat untuk tambal ban. Tapi, kalau pas lagi bepergian jauh, atau ke tempat yang jarang ‎ditemukan tambal ban, itu alangkah sangat mengesalkan, sih. Dan itu kejadian kemarin.‎


Kalau sebelumnya saat ban bocor keadaan masih di rumah. Jadi motor bisa segera di bawa ke ‎tambal ban terdekat. Atau kalau lagi ke rumah emak di Balung, pas ban bocor tapi yang dilalui ‎itu jalan raya utama. Cukup berjalan kaki sebentar untuk menemukan tambal ban masih ‎mudah, dan bisa segera ditangani. Tapi berbeda dengan 2 hari yang lalu.‎


Tepat pada hari Minggu, 20 Februari 2022 aku dan suami diminta untuk melayat salah satu ‎kerabat yang rumahnya terletak di Mandiku, Desa Mumbulsari, Jember. Sebelum berangkat, ‎kami sudah pasang muka bad mood, karena selain jauh, juga jalanan yang harus dilalui itu ‎sangatlah sesuatu banget. Walaupun sudah aspal, tapi masih banyak beberapa spot yang ‎berlubang.‎


Syukurlah saat kita berangkat menuju lokasi, mood kami mulai membaik. Sepanjang perjalanan ‎juga happy aja sambil cerita tipis-tipis. Sampai akhirnya ketemu jeglongan sewu dalam bahasa ‎Jawa, yang artinya 1000 lubang. Iya. dan jalan yang kami lalui itu merupakan jalan raya ‎utama. ‎


Mau nggak mau tetap meluncur terus, sekalipun ketemu fatamorgana. Yang dari kejauhan ‎nggak terlihat ada lubang, begitu sudah mendekat ternyata lubangnya agak curam. Karena itu ‎saat melalui jalanan Tempurejo ini, nggak bisa melaju dengan kecepatan tinggi. Kalau nggak ‎mau ntar bermasalah atau ada apa-apa dengan ban.‎


Nah, aku dan suami emang berhasil melalui itu jalanan sih. Lagipula laju motor kami tidak ‎terlalu cepat, bener-bener pelan terlebih lagi di depan ada mobil, kalau mau nyalip akan ‎terhalang dengan medan jalanan. Mood seketika berubah agak mulai memanas nih kami ‎berdua. Hahaa. Karena jalan raya yang kami lalui memang tidak ada perubahan sama sekali ‎sejak terakhir kali kami lewat sana. Malah lebih parah. Padahal saat itu hari raya 2021.‎


Hingga kemudian kami melalui jalanan pedesaan hampir mendekati tujuan, yaitu rumah ‎paman, yang dekat dengan tempat kerabatnya meninggal. Karena yang meninggal merupakan ‎saudara dari istri kakaknya ibunya suami.  Yuk jabarin deh, hehehehe…‎


Untuk bisa sampai menuju desa tersebut, kami harus melalui jalanan yang tidak beraspal ‎dengan menurun lalu menanjak curam. Tapi sayangnya, lokasi daerah menurun yang ‎merupakan jembatan tersebut, tanahnya berpasir dan bergelombang cukup berdekatan. ‎Sedangkan suami pakai kecepatan standar. Jadinya saat lewat jembatan berpasir pertama itu, ‎emosi udah mulai meradang.‎


Selanjutnya ada jembatan lagi yang sedikit beraspal, menurun lalu menanjak, tapi nggak ‎separah jembatan pertama yang penuh drama. Hingga sampailah kami pada jalanan kecil ‎mendekati lokasi. Tapi sayangnya, sekitar 200 km lebih sebelum sampai, motor kami bocor. Ya ‎kami mendorongnya. ‎


Bayangkan pakai masker, tenteng tas, pakai jaket dan helm, berjalan beriringan sepanjang ‎jalan. Ya nggak terlalu lama tapi cukup kerasa aja gitu. Tapi nggak seberat beban hidup lah, ‎wkwk


Sesampainya di rumah paman, motor di bawa ke tempat tambal ban terdekat. Tapi sayangnya ‎selama menunggu beberapa menit, bahkan berganti jam, sampai aku diantar bude melayat, ‎motor belum ditangani. Sepulangnya dari melayat sambil jalan kaki. Motor baru ditangani. ‎Wah, dari jam 2 siang, baru di jam 3 lebih motor mulai digarap. Sedihnya… ‎


Kami pun baru memutuskan untuk pulang setelah jam 4 sore lebih. Itu pun juga masih belum ‎shalat Ashar. Belum lagi melalui jalanan bergelombang dan berlubang yang horor banget, ‎karena kami khawatir ban yang baru aja ditambal dan melintas di jeglongan sewu akan bikin ‎bocor baru. Tapi syukurlah ban tidak kenapa-kenapa. Namun kami 2 kali terjebak dengan 2 kali ‎lubang yang cukup curam saat kecepatan agak tinggi. Kalau mau rem mendadak kan jadi ‎bermasalah nantinya.‎


Begitu jalanan berlubang dilalui, kami mengecek kembali ban motor kami. Dan yang kami ‎takutkan berikutnya terjadi. Apa itu? Pemasangan ban motor ternyata tidak presisi. Hal ini bisa ‎kami rasakan perbedaannya saat melaju di jalan rata. Rasanya seperti naik roller coaster, naik-‎turun gitu. Suami udah sangat resah di jalan dan ingin cepat-cepat sampai rumah. ‎Alhamdulillah, bersama adzan Maghrib yang berkumandang, setelah melalui perjalanan yang ‎terasa amat lama itu, akhirnya kami tiba di rumah. Masih dalam suasana hati yang buruk, dari ‎pengalaman ban bocor berkali-kali ini, suami pun bertekad bulat untuk ganti ban motor ‎secepatnya.‎


Dilema antara Ban Motor Biasa atau Ban Tubeless


Sebenarnya rencana untuk ganti ban motor ini sudah dari kapan hari. Tapi momennya saja ‎yang belum pas. Sehingga pas kemarin udah gemas dengan beberapa kali ban motor. Akhirnya ‎keputusan untuk ban motor diambil. Meski begitu, masih ada dilema akan memilih ganti ban ‎motor yang bermasalah itu dengan menggunakan ban biasa sesuai standar, atau pakai ‎tubeless.‎


For your information nih, ban motor bagian belakang yang sering dan hampir tiap kali bocor ‎itu. Karena mungkin beban berat dari pengendara dan 1 penumpang. Lalu dari faktor ban luar ‎yang juga mulai menipis. Kalau ban dalam baru diganti beberapa bulan yang lalu. Tapi karena ‎sering mengalami bocor, jadi banyak tambalan di berbagai spots.‎


Tidak hanya itu, kadang dari pengendara. Ya, suami juga berpengaruh. Mungkin karena ‎terburu-buru jadi ada jalanan berlubang tidak bisa dihindari. Hingga faktor lainnya.‎


Nah, saat akan menuju bengkel untuk beli ban baru, kami berdua sempat berdebat. Suami ‎kekeh untuk ganti ban tubeless. Sedangkan aku memilih untuk pakai ban biasa sesuai standar ‎motor Suzuki yang ukuran 81 kalau nggak salah ya, hhaa.‎


Sempat berhenti dan membicarakan perihal ban motor mana yang pas sambil ngeteh di depan ‎Alfamart, lalu kami putuskan untuk ganti ban motor tubeless saja. Walaupun saat itu aku tetap ‎pengen ban biasa. Tapi aku menegaskan, kalau motor itu suami yang sering pakai. Jadi, ada ‎apa-apa tentu dia yang paling pokok mengalaminya. Kalau aku pakai itu motor mungkin hanya ‎sebentar saja. Sehingga, aku bilang. Kalau kamu yakin pakai tubles, ya udah ganti itu aja. ‎


Nah, kalau sobats nih lebih nyaman pakai ban motor biasa atau ban motor yang tubeless nih? ‎Boleh dong sharing di kolom komentar ya. By the way terima kasih untuk membaca artikel ‎pengalaman memilih ban biasa atau ban tubeless ini. Untuk artikel ganti ban tubeless di Planet ‎Ban, tunggu artikel yang aku sematkan nantinya ya.‎


Terima kasih sudah membaca dan berkunjung di blog ini. sampai jumpa pada artikel ‎berikutnya. Feel free to drop your comments

‎~Blessed‎

Khoirur Rohmah


Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Chingudeul