‎ ‎
personal lifestyle blogger jember

Saat Orangtua Liburan Tanpa Keluarga


Bismillaahirrohmaanirrohim

Halo sobats, kembali lagi dengan aku di tengah malam di tanggal 4 Desember 2022 yang ingin membagikan pengalaman pribadi yang berkaitan dengan parenting di Minggu pertama di bulan terakhir 2022 ini. Daripada mengendap lebih lama, dan dilupakan begitu saja maka langkah terbaik adalah dengan menuliskannya. Seperti dalam artikel ini, aku ingin menyampaikan pengalaman yang dialami oleh orangtuaku, yaitu Emak. Setelah beliau melakukan perjalanan ziaroh.


Tidak mudah menjadi Emak yang perjalanan hidupnya banyak menguras emosi dan air mata di setiap momennya. Apalagi merawat kelima anak dengan satu sayap saja. Belum lagi, di masa senjanya, beliau masih sering membantu merawat cucu-cucunya yang masih imut, atau yang kadang menggemaskan hati yang super-super aktif. Di lain sisi, ingin memberikan waktu sejenak bagi Emak untuk menikmati waktunya sendiri di luar lingkungan rumah, yaitu liburan. Tapi hal tersebut masih belum bisa terlaksana.


Hingga di Bulan Oktober, kakak ipar mendaftarkan Emak untuk mengikuti perjalanan ziaroh ke beberapa tempat di Madura dan Sunan Ampel, Surabaya. Mendengar hal itu, bukan hanya anak-anaknya saja yang antusias, bahkan Emak juga senang mendengarnya. Mempersiapkan apa saja yang sekiranya diperlukan, dan bagaimana nanti urusan rumah, siapa yang akan membersihkan, dan juga memasukkan hewan ternak ke kandang. 


Satu bulan sebelum perjalanan ziaroh itu, aku diberi instruksi oleh Emak. Beliau menyampaikan, kalau di rumah mertua lagi senggang nanti bisa tengok-tengok rumah Emak,. Kalau perlu disapukan atau dibersihkan, lalu ayamnya juga diperhatikan waktunya dikeluarkan, dikasih makan, dan ketika masuk kendang. Karena kakak yang tinggal dekat rumah Emak masih punya balita sehingga aku yang mungkin di akhir pekan lagi free, bisa menghandle urusan rumah Emak. Aku pun mengiyakan saja, terlebih sudah membicarakannya kepada suami.


Hingga tiba pada Hari H di hari Jumat sore, aku dan suami segera berangkat dari Jember Kota setelah suami pulang kerja. Sekalipun hujan gerimis tipis sepanjang perjalanan pun nggak masalah. Asalkan sampai rumah dengan selamat. Alhamdulillah, begitu sampai rumah Emak kaget karena kami datang sebelum malam harinya beliau berangkat ziaroh. Sebab, aku tak memberikan informasi jika akan datang hari itu.


Sambal istirahat, aku pun menanyakan perihal barang-barang yang sudah Emak siapkan apa saja. Dari perlengkapan obat, mandi, ibadah, pakaian, hingga makanan pun juga. Merasa tenang juga karena bisa terlibat mempersiapkan kebutuhan Emak sebelum melakukan perjalanan ziarohnya. Jadi tahu mana barang yang harusnya dibawa atau nggak, atau yang perlu dibawa tapi lupa dipersiapkan.



Di hari Jumat Malam Sabtu setelah Sholat Maghrib, beberapa rombongan sudah datang pada titik kumpul yang telah ditentukan. Aku, suami, dan kakakku juga ikut mengantarkan Emak sembari menunggu beliau dan rombongan berangkat. Tapi sayangnya, karena keponakan rewel, sehingga kami pulang terlebih dahulu. Emak posisi sudah berada di dalam bis. Beruntung banget di rombongan tersebut orang-orangnya merupakan teman sholawatan rutinan Emak di tiap Minggu. Sehingga bisa dapatin teman ngobrol saat sampai di tempat ziaroh nantinya.


Aku dan kakak yang sampai rumah merasa ada yang belum Emak bawa, jadi aku memutuskan untuk kembali ke tempat tadi, lalu memberikan barang tersebut. Kemudian aku kembali pulang. Pas sampai rumah, kepikiran lagi. Nanti Emak gimana kalau makananya dipangku aja, bukannya tambah capek yak arena duduknya nggak leluasa. Apa dikasih tahu aja supaya makananya taruh bawah aja. Kan nggak papa. Lagipula dibungkus juga. Overthingking pun menjadi-jadi. 


Akhirnya aku kembali ke bus Emak tadi, tapi ternyata pintu sudah ditutup, dan bis segera berangkat. Merasa nggak tega karena perjalanan Emak tadi. Aku pun segera balik Haluan dan cari makanan. Padahal perjalanan Emak seperti ini bukan kali pertama saja. Namun, karena udah lama juga Emak nggak refreshing, jadi anaknya yang suka khawatir berlebihan dengan beliau. 


Alhamdulillah, pagi harinya mendapat kabar kalau Emak sudah sampai Madura, dengan bukti foto dari kepala rombongan. Anak-anak Emak dalam grup whatsapp pun ramai mengucap alhamdulillah. Ya, senang karena senyum sederhana tersinggung dalam goresan wajah beliau yang sudah lanjut tersebut.


Sabtu, Minggu berlalu, hingga Minggu Malam Senin tiba, akhirnya ada kabar Emak datang. Beliau mengetuk pintu sekitar jam 03.00 WIB pagi. Saat itu aku tidur di rumah sama keponakan. Karena suami sudah kembali ke rumah Jember untuk persiapan kerja di Senin paginya. Mendengar suara ketukan pintu, membuat aku terbangun, lalu membukanya. Begitu Emak masuk rumah, aku pun lanjut meneruskan ke pulau kapuk donk.


Nah, Senin pagi hari aku melihat raut wajah Emak lebih cerah dari biasanya. Pikirku, apakah mungkin efek dari liburan kemarin ya. Dari situ, aku pun menanyakan bagaimana perjalanan ziaroh Emak. Beliau dengan sangat antusias menceritakan hal apa saja yang dialami, ditemuinya selama perjalanan tersebut. Aku pun juga ikut menanyakan, bagaimana Emak duduk saat perjalanan berangkatnya. Beliau menyampaikan kalau makanan yang awalnya dipangku, ditaruh di bawah sehingga mudah untuk menikmati duduknya. Aku sangat lega mendengarnya.


Begitu mendengar kisah dari Emak. Aku langsung ke rumah kakakku menceritakan ulang yang Emak sampaikan tadi sambil mengantarkan oleh-oleh. Kakak dan kakak ipar sangat sumringah juga mendengar ceritaku tentang Mae. Berarti Emak sangat menikmati perjalanan wisata kemarin. Jika demikian, kakak ipar berencana akan mengikutkan Emak kembali dalam perjalanan ziaroh di tujuan berikutnya. Apalagi melihat antusias Emak yang sangat senang setelah ziaroh untuk pertama kalinya tersebut.


Hadiah untuk Orangtua dengan Traveling


Perjalanan ziaroh kemarin juga bentuk hadiah untuk Emak yang banyak berjuang banyak selama ini. Apalagi dengan ikut membantu merawat cucu-cucu Emak, memberikan kesempatan ziaroh meskipun 3 hari tanpa terbebani kegiatan rumah, sudah sangat membantu menyegarkan mood Emak. 


Beruntung juga Emak nggak pegang gawai. Sehingga kekhawatiran untuk menanyakan apakah hewan ternaknya sudah diurusi atau belum bisa diminimalisir. Tapi, rumah dan isinya benar-benar kami persiapkan betul-betul. Supaya begitu Emak datang, lebih terawat.


Sebelumnya Emak pernah bepergian sendiri tanpa anak-anaknya dengan naik travel. Tapi karena itu untuk pertama kalinya naik travel, sehingga beliau ngerasa tersiksa saat duduk di kursi mobil. Belajar dari itu, saat ziaroh kemarin, kami pun sempat khawatir tentang hal ini. Namun ternyata Emak sudah cukup belajar dari pengalaman sebelumnya.


Ketika Anak Khawatir Terhadap Orangtua yang Melakukan Perjalanan


Bila biasanya orangtua yang merasa khawatir anaknya bagaimana nanti selama di perjalanan, dan saat sampai di tempat tujuan. Tapi justru hal ini berbalik. Ternyata anak pun juga bakalan ada di posisi mereka yang khawatir bagaimana orangtuanya bisa survive selama perjalanan tanpa kurang satu atau apapun. 


Terlebih, jika biasanya orangtua antusias mendengar cerita anak setelah mereka berhasil mencapai sesuatu atau perjalanan liburannya. Sekarang berganti anak yang antusias banget mendengarkan seperti apa pengalaman orangtuanya selama menempuh perjalanan berangkat maupun pulangnya dari ziaroh tersebut.


Nah, sobats. Apakah kamu pernah punya pengalaman yang sama seperti aku dan kakakku saat orangtua melakukan perjalanan seorang diri tanpa keluarga?  Jika iya, bagaimana nih perasaanmu? Boleh banget loh bagikan di kolom komentar ya.


Semoga kisah yang aku tulis kali ini bermanfaat dan menginspirasi ya sobats. Terima kasih sudah membaca dan berkunjung di artikel ini. Sampai jumpa pada tulisan berikutnya. Feel free to drop your comments.


~blessed

Khoirur Rohmah


Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Chingudeul