Darurat Budaya Membaca

September 06, 2017






Bismillaahirrohmaanirrohim
Halo gaes... tak terasa kita sudah memasuki hari Ke-6 bulan Dzulhijjah ya. Yang kemarin habis makan daging qurban, sekarang masih tersimpan di refrigatornya apa tidak? Semoga jika ada, bisa digunakan untuk makan di hari berikutnya ya gaes. Hehehee...

Ah iya, ngomongin soal Hari Raya Idul Adha nih. Ada sebuah tragedi yang berulang kali terjadi sebelum hari raya tersebut, gaes. Lebih tepatnya hanya terjadi di tempat kerja saya sih. Kebetulan mesin fotocopy di toko mengalami error kurang lebih 7 hari. Dan selama foto copy itu rusak, terpaksa kan kalau ada pelanggan yang ingin menduplikasi dokumen, tanya terlebih dahulu pada karyawan di toko, “mesin foto copy bisa atau tidak, ya?”. Hal itu adalah sekian dari pertanyaan yang selalu muncul di permukaan.

MESKI nih ya... di sana, di atas etalase barang dagangan yang berupa Alat tulis di toko itu, sudah tertera tulisan yang berbunyi “FOTO COPY RUSAK atau Masih dalam Perbaikan”. Sebenarnya kurang jelas bagaimana sih? Hehehee... jika dijangkau dari jalan, tulisan masih bisa terbaca, kecuali mereka mempunya kekurangan penglihatan seperti minus, atau lainnya. Jadi, perlu di maklumi.

Nah, ada nih beberapa tipe pelanggan yang sering kechelek saat akan fotocopy, simak aja nih kegiatan mereka.
- Langsung nyelonong masuk toko, tanpa melihat tulisan di atas etalase, dan berkata pada karyawan jika dia ingin foto copy. Tapi, zonk, dia tak memperhatikan tulisan di etalase yang ada di dekatnya
- Sudah baca tulisan tersebut, namun masih memastikan lagi. “Mbak, fotocopynya nggak bisa ya?”
- Pertama datang ke toko, beli ATK. Kemudian balik lagi untuk fotocopy. Nah, dia tak memperhatikan tulisan yang ada di sekitarnya, padahal tulisan cukup besar dan ATK yang dicari dekat dan terjangkau sekali.

Itulah sedikit dari sekian orang yang melakukan hal yang sama di antara ketiga aktifitas di atas. Niat saya dan juga teman-teman, apabila ditulisi keterangan di atas etalase di depan toko, supaya bisa dijangkau oleh pelanggan dari jalan raya, ketika akan turun dari sepedanya. Dan tidak perlu turun untuk mempertegas lagi. Tapi, mayoritas untuk pelanggan yang tidak jeli dengan keterangan tersebut, dari berbagai umur, mereka masih melempar pertanyaan kepada karyawan, kemudian balik lagi ke kendaraan mereka.

Sedangkan mereka yang memperhatikan tulisan yang terpampang jelas tersebut, memilih berhenti tersebut, kemudian ketika menemukan tulisan di atas etalase, mereka akan langsung balik dengan bermacam ekspresi. Kadang tertawa, kecewa, dan raut wajah lainnya. Hehehee....

Tulisan untuk Pemadaman Listrik
 
Nah, kalau yang biasanya lucu sih buat saya yang bekerja di toko merangkap sebagai desain grafis, ketika melayani pembelinya anak-anak. Pertama mereka datang untuk membeli alat tulis. Sedangkan tulisannya ada di dekat pensil atau pena tempat dia berdiri. Setelah selesai, dia balik. Dan waktu balik lagi ke toko untuk kepentingan mem-fotocpy, misal. Dia berkata apa adanya dengan wajah polosnya. “Mbak, mau fotocopy ini dijadikan 3 lembar ya,”. Ahhh... darisitu sebagai wakil dari karyawan yang menjaga toko, kadang merasa gemes. Hehehe... “Foto copynya nggak bisa,dek...” sambil melempar senyum antara palsu dan natural. Hehehee... lalu dia memperhatikan tulisan yang ada di etalase yang dilaluinya tersebut. Oh iya, ada tulisannya. Kemudia mereka balik sambil tertawa, kalau dia bersama teman-temannya, dia akan bercerita kalau tadi tak membaca tulisan itu. Hehehee

Untuk mereka yang langsung datang ke toko tanpa membaca tulisan di etalase. Istilah singkatnya nyelonong aja, kadang merasa tertipu. “Oh iya, kenapa nggak aku baca dulu”. Hehehee... dari berbagai kalangan umur, alhamdulillah saya pernah menjumpainya di toko. Meski dipikir-pikir jika saya dalam keadaan tergesa-gesa atau tidak lagi fokus dengan tulisan yang ada di sekitar toko, tentu akan melakukan hal yang sama, sih. Heheee...

Namun, yang menjadi sorotan saya hanyalah. Apakah bena minat baca seseorang, khususnya warga di sekitar sini, tidak perlu jauh-jauh se Indonesia ya, kurang minatnya ya? Hanya itu yang menjadi pemikian saya. bahkan untuk tulisan yang jelas-jelas bisa dijangkau seharusnya bisa memberi informasi lebih untuk siapapun yang melihat serta membacanya.

Jadi, jangan heran juga sih,  kalau minat baca Indonesia ada ditingkat 60 Dunia. Meski tidak bisa kita entengkan begitu saja. Pasalnya minat baca tersebut berada di peringkat 60 dari 61 negara1. Sangat disayangkan sekali, bukan?

Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Untuk hal yang seremeh keterangan pada toko saja tidak diperhatikan, apalagi dengan membaca buku bacaan? Mengerjakan soal? Jujur saja, keponakan saya sendiri juga mengalami hal yang sama terlebih ketika mengerjakan PR. Mereka mengerjakan soalnya terlebih dahulu, kemudia mencari tulisan atau jawaban mana yang benar. Padahal, dari dulu ketika saya masih SD, ibu guru megatakan berulang kali. Baca terlebih dahulu bacaannya, kemudian kerjakan soalnya. Jika tidak ada, cari di catatan bukunya. Dibaca.

Lagi-lagi dibaca, bukan membaca cepat juga. Membaca sembali menyerap tulisannya. Namun sangat disayangkan sekali dengan minat baca warga masyarakat, khususnya di desa. Ingin sih, suatu hari bisa punya perpustakaan kecil di rumah buat anak-anak. Sembari meningkatkan minat baca mereka. Tapi sampai sekarang sih, masih belum terencana dengan baik, hehee... doakan saja.


Dan sepertinya, kejadian di tempat kerja terkait mesin fotocopy itu. Mungkin sebentar lagi akan saya bikinkan banner cukup besar supaya bisa dibaca oleh para pelanggan toko kami. Hehehee... tapi seru juga sih, jika nggak ada kejadian di toko itu, mana mungkin tulisan ini di publish. Wkwkwkwkwk. Dan alhamdulillah sekarang mesin fotocopynya sudah sembuh lagi dengan normal. Hehehehe

Apalagi nih sebagai blogger yang kadang waktu blogwalking, saya sendiri jujur, juga pernah melewatkan sekian bagian tulisan, dan hanya bagian menurut saya pingin baca yang saya sorot dan saya tanyakan di kolom komentar apabila ada hal yang ingin saya tanyakan. Bukan menanyakan yang jawabannya sudah-sudah dituliskan oleh teman blogger di postingan blog nya tersebut. Hehehe… jadi banyak belajar sebagai blogger, kalau saya sendiri nggak bisa stay di blog orang untuk membaca sekalipun itu emang saya butuhkan atau nggak, terlepas dari itu, tentu ada ilmu yang bisa dibawa pulang setelah BW tersebut. Hehee

So, akan ada banyak manfaat jika kita lebih jeli dan menyukai kegiatan membaca, serta membudayakan kegiatan tersebut. Bukan malah rugi, tapi membuka wawasan buat kita, dan menambah informasi untuk kita sendiri, dan boleh jadi manfaat tersebut bisa disebarkan kepada orang lain. Meski juga hanya berupa tulisan kecil di fotocopy, hehehehe. Darurat Budaya Membaca! Membaca itu Penting Sekali. Sungguh penting sekali. Dan mulai sekarang, yuk mari budayakan membaca dari diri sendiri serta ajak mereka-mereka di sekeliling kamu untuk membaca. Membaca tulisan atau buku apapun sebelum bertanya. Hehehehe.

Semoga bermanfaat, and feel free to drop your comments,

Di pagi hari yang penuh kabut dan mentari yang merangkak naik,

Love,
Khoirur Rohmah

Sumber  Referensi :
1 edukasi.kompas.com

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Me

Jika ingin mengontak saya untuk keperluan publikasi, kerjasama, ataupun pertanyaan lain tentang blog ini bisa dengan mengirim email langsung ke rurohma95@gmail.com.
Terima kasih -
Copyright by Khoirur Rohmah
Fastabiqul Khoirots

Like us on Fanpage

Kicauan Saya