Tragedi yang Pertama dan Terakhir

September 08, 2018


Tragedi yang Pertama dan Terakhir


Bismillaahirrohmaanirrohim

Halo gaes,
Malam ini, 8 September 2018 adalah malam kedua setelah tragedi yang menimpaku kemarin malam. Sebuah tragedi yang membuatku menisbatkannya sebagai tragedi yang hanya terjadi sekali dan terakhir bagiku. Tak ingin hal yang sama terulang kembali.


Meski tadi pagi sudah dipijat sama tukang pijat, rasanya tubuh masih terasa sakit dan belum sepenuhnya sembuh. Apalagi daerah tertentu di 4 jari kaki sebelah kiri, bukan jari jempol. Aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Yah. aku mengalami kecelakaan dengan seorang bapak tua yang sedang mendorong sepedanya sambil berjalan. Dia tidak mengendarainya. Namun mendorong saja dari samping sembari jalan kaki.

Dari kejauhan, mendekati TKP, aku tak melihat ada seseorang. Namun, ketika jarak sudah di depan mata, ternyata di situ ada seorang bapak yang tengah berjalan sambil mendorong sepedahnya.Yah, beliau nyata ada, bukan makhluk tak kasat mata. Hanya saja penglihatanku terkecoh dari jauh, tidak bisa melihat ada pengguna jalan di sana, meski dia berada di pinggir jalan.

Jika kamu menanyakan seperti kejadian dan posisiku saat aku jatuh, maaf aku nggak bisa menjelaskannya. Seketika aku lupa posisi saat jatuh bagaimana. Aku hanya mementingkan bagaimana keadaan bapak tersebut. bukan bagaimana kondisiku setelahnya. Aku khawatir dengan bapak tersebut. Aku khawatir dimarahi ibu, aku juga khawatir kalo tragedi ini dibawa ke ranah hukum. Saat itu juga, banyak kekhawatiran yang muncul ketika aku sadar. Yah, bukan tidak sadarkan diri, aku hanya lupa bagian dimana aku terjatuh itu dengan posisi bagaimana saja. 

Namun, setelah terjatuh dan menabrak bapak tersebut, aku bangun dari posisiku lalu meminta maaf dengan setulus mungkin kepada bapaknya. Aku mengatakan jika aku tidak melihat sama sekali kalau bapak tersebut jalan kaki. Iya, aku mengakui kalau aku salah. Sehingga aku meminta maaf.

Ya Allah... flahback di masalalu, saat aku berkendara, aku kadang memikirkan. apakah dalam hidup, kita perlu celaka, atau diberi kejadian yang hanya terulang sekali seumur hidup supaya kita bisa berhati-hati dalam melakukan suatu hal. Yah. Seperti saat berkendara, ketika aku sudah mampu mengendarai sepeda, tanpa mengalami kejadian dengan sepeda tersebut, rasanya kurang afdhol begitu ya. begitu bayangku dulu. 

Dari kejadian ini, aku benar-benar masih shock belum bisa jalan seperti sebelumnya. Luka masih terasa, trauma sedikit juga masih. Sedang memulihkan diri dan berusaha bisa segera sehat secepatnya.

Semoga sedikit tulisan malam ini bisa menjadi bahan pelajaran yang mungkin bisa diambil untuk teman-teman semua.

Terima kasih sudah mau berkunjung, dan membaca postinganku tentang tragedi untuk yang pertama dan terahir kali ini. Semoga bermanfaat, dan jangan lupa, feel free to drop your commnets.

Blessed
~Khoirur Rohmah

You Might Also Like

1 komentar

  1. waduh, bahaya itu dek. hati hati lain kali bawa kendaraan. baca bismillah dulu.
    kapanpun musibah datang. dijalan

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Me

Jika ingin mengontak saya untuk keperluan publikasi, kerjasama, ataupun pertanyaan lain tentang blog ini bisa dengan mengirim email langsung ke rurohma95@gmail.com.
Terima kasih -
Copyright by Khoirur Rohmah
Fastabiqul Khoirots

Like us on Fanpage

Kicauan Saya