[Day 18] Cerita Mudik dari sang Kakak

Kamis, 23 Mei 2019

Kabupaten Jember, Jawa Timur, Indonesia


Bismillaahirrohmaanirrohim
Halo sobats FR, gimana nih puasanya? Masih lancar aja kan ya? Udah absen berapa hari nih, hehhehe. Kalau aku alhamdulillah dapat di pertengahan bulan, jadi ya insyallah di pastikan aman di akhir bulan masih bisa mengikuti sholat ied, tapi ya gitu tadarusnya aku belum sampai khatam, hiks.

Beranjak dari kesedihan aku, kali ini aku ingin membagikan Cerita Mudik dari kakak yang sepertinya drama banget. Kebetulan aja tema di hari ke-18 #30HariKebaikanBPN aku ingin membagikan secuil kisah mudik kakak aku, yang penuh drama, ya kali kamu juga mungkin memiliki nasib yang sama atau saudaramu, boleh deh nanti sharing di kolom komentarnya yah, sobs.

Oke lanjut, berikut ini adalah kisah kakak aku tentang Cerita Mudik, check this out.

Mudik, sebuah perjalanan kembali ke kampung halaman setelah sekian lama merantau atau menetap di luar kota, kemudian kembali ke tempat asal muasal keluarga inti, baik untuk menjalik tali silaturrahmi maupun melepas rindu dengan sanak saudara yang terpisah antara jarak dan waktu. Eaa.... kira-kira ya demikian lah, mudik yang kerap kali dilakukan oleh orang-orang menjelang hari raya idulfitri, atau lebaran.

Kalau menonton berita di Televisi sih, ada kebiasaan atau adat di daerah tertentu yang mudik dengan menggunakan alat transportasi tertentu. Sedangkan kakak aku ya menggunakan moda transportasi yang menjangkau perjalanan dari tempatnya tinggal bersama suami hingga sampai ke kampung halaman.

Kalau kakak pertama aku ini, dia tinggal di Trenggalek yang mana letak tempat tinggalnya itu di pegunungan. Rute perjalanannya dari pegunungan ke daratan itu cukup menantang, karena melewati jurang dan jalannya itu ada yang tanjakannya bisa sampai 70 hingga 80% sobats. Bayangkan sudah, hahaha. Bukan Cuma itu, tiap mudik, dia perlu biaya yang nggak sedikit, melainkan banyak. Ahh itu mah sudah pasti. Apalagi kalau anggota keluarga lebih dari 3, tentu perlu budget yang nggak sedikit. Ditambah lagi dengan biaya hidup untuk beberapa hari di kampung halaman. Yahh itu sih pointnya.

Karena itulah, kakakku yang pertama jarang sekali mudik, minimal 2 tahun sekali atau maksimal 3-5 tahun sekali. Bukan karena nggak kanget keluarga atau nggak ingin mudik. Kalau mau sih mau, cuman ya itu, tanggungan biaya yang dibebankan itu nggak sedikit, perlu biaya banyak. Apalagi kalau anak-anak sudah pada gede, tentu tiket transportasi juga harus sendiri-sendiri ya kan.

Oleh sebab itulah, kakakku selalu menabung jika tahun ini atau tahun depan akan mudik. Bakalan dipersiapkan jauh-jauh hari, supaya nggak kelimpungan saat akan mudik. Terlebih lagi nanti di kampung halaman, mereka bukan berarti nggak akan menghabiskan uang. Kalau itu ya jelas tetap akan dikeluarkan. Misalnya untuk membeli kebutuhan makanan atau minuman untuk membantu keluarga di kampung halaman, memberi sangu untuk emak jika ada, keponakan, dan lain sebagainya. Jadi nggak sedikt yah. Pantas aja perlu usaha keras ketika mudik. Apalagi sudah punya keluarga besar.


Buat aku yang on the way nikah, sudah pasti juga akan diperhitungkan ketika mudik, walau aku nggak jauh-jauh juga sih sama rumah. Yang jelas. Mudik itu perlu mempersiapkan materi lebih, bukan Cuma berguna ketika di kampung halaman, namun juga ada investasi setelah kembali dari kampung halaman. Jadi wajar kalau kadang perlu beberapa waktu baru mudik. Mana lagi harga tiket dalam negeri juga mahal yah, hehehhe.

Nah, itu dia sekian Cerita Mudik yang bermula dari kakak aku ini bisa berguna, terima kasih sudah berkunjung dan membaca postingan ini. Jangan lupa, feel free to drop your comments yah sobats,

~Blessed
Khoirur Rohmah

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Copyright © Fastabiqul Khoirots. Blog Design by SkyandStars.co