Pertanyaan "Kapan" yang Tak Berujung

Senin, 04 Januari 2021

Jember Regency, East Java, Indonesia
Bismillaahirrohmaanirrohim..‎

Halo sobats. By the way ini adalah postingan pertama yang aku unggah di tahun 2021. Karena ‎awal tahun belum menulis, jadilah postingan baru tayang hari ini. Selain itu, tema ini udah ‎lama mengendap di catatan gawaiku. Kebetulan juga aku mengikuti challenge 30 hari bercerita ‎di instagram. Yang dimulai sejak awal bulan Januari, sampai akhir bulan ini. ‎


Jadi, challenge ini membebaskan pesertanya untuk mengikutinya di berbagai platform. Bisa IG ‎Story, Feed IG, dan Blog. Namun, admin @30haribercerita hanya akan me-repost cerita dari ‎feed instagram. Beberapa hari yang lalu aku udah bikin postingan di instagram. Tapi untuk ‎beberapa tema tertentu akan aku tuliskan lebih dahulu di blog. Supaya aku mendapatkan dua ‎konten sekaligus. Di Instagram dan blog.‎



Ngomongin tema, ”Kapan” itu tentu kamu setuju kalau pertanyaan ini di kehidupan nyata saat ‎dilontarkan oleh pihak tertentu, kerap kali bikin cemas, dan rasa nano-nano lainnya. Sebab, ‎‎”kapan” yang ditanyakan oleh sebagian orang tentu akan turun temurun dan merembet ‎kemana-mana bahasannya. Bahkan tidak akan ada ujungnya.‎


Ketika terlampaui satu jawaban ”kapan”, akan muncul kembali ”kapan” berikutnya. Gitu aja ‎terus. Beberapa pertanyaan ”Kapan” yang tak berunjung tersebut antara lain:‎


Kapan Lulus? Kapan Wisuda?‎

Bagi sebagian mahasiswa tentu akan sering mendapati pertanyaan demikian. Nggak tahu ‎perjuangannya ini itu untuk mencapainya. Bahkan juga ada yang menanggapi dengan senyum, ‎atau cuek tatkala ada yang bertanya demikian. Begitu selesai wisuda, si fulan tetap dicerca ‎dengan pertanyaan ”kapan” untuk kedua kali atau lebih mungkin ya.‎


Kapan Bekerja?‎

Lulus wisuda, bukan berarti Fulan akan terbebas dengan pertanyaan ”kapan”. Melainkan tetap ‎ada yang akan menanyakan kepadanya. Bahkan nggak langsung didengarnya, namun dari ‎orang lain, dengan pertanyaan yang hampir atau serupa dengan kalimat, ”Kapan nih mau cari ‎kerjaan? Mau jadi beban keluarga terus?”, ehhh nggak gitu juga sihhh.‎


Oke, hingga akhirnya Fulan frustasi, ngelamar kerja sana, sini, hingga diterima di sebuah ‎perusahaan tertentu. Atau karena hoki si Fulan, walau cuek menghadapi pertanyaan Fulanah ‎lainnya, saat melamar pekerjaan yang sesuai dengan passion-nya. Ehh dia keterima. Dewi ‎fortuna memang sedang berpihak padanya. Jadi? Fulan udah bekerja nih ya


Kapan Nikah?‎

Udah lama bekerja sebagai karyawan perusahaan, dengan gaji yang cukup untuk memenuhi ‎kebutuhan diri maupun keluarga. Atau mendapatkan posisi yang mentereng di perusahaan, ‎lantas Fulan mendapati dirinya ditanyai oleh Fulanah lagi. ‎


‎”Udah 2 tahun kerja, jabatan juga oke, apalagi gaji pun cukup lah untuk dinikmati sendiri, terus ‎Kapan Nikah? Ada calonnya nggak nih?” begitulah sedikit pertanyaan Fulanah.‎


‎”Gimana mau nikah, calonnya aja belum ada. Mau dicarikan, kah?,” ungkap si Fulan. ‎


Itu hanya ilustrasi untuk Fulan yang lama bekerja, umur udah pas, belum ada calonnya. ‎Berbeda pula kalau yang ditanyai Fulan lain yang emang udah lama bekerja tapi masih ingin ‎menikmati masa muda dengan bekerja keras. Pertanyaan ”Kapan Nikah” akan menjadi pemicu ‎dia untuk semakin bar-bar dalam bekerja.‎


Karena, begitu ”Kapan Nikah” sudah ada jawabannyam, tentu akan muncul pertanyaan ”kapan” ‎sesi selanjutnya. Ya apakah itu?‎


Kapan Hamil?‎

Cung sini siapa yang tengah menunggu kehadiran buah hati? Ya aku nunjung lebih awal, deh. ‎Hahaha. Iya. Saat Fulanah berhasil memprovokasi Fulan untuk menikah dengan pertanyaan ‎yang sering ditanyakan tersebut. Bukan berarti Fulan terbebas sepenuhnya. Sebab, muncul ‎‎“kapan” jilid 2.‎


‎“Gimana, udah isi?,” , ‎

‎“Kapan nih punya adek?,” , ‎

‎”Mau nunda ta, kok belum hami?” , ‎

‎”Pakai KB ya?”, ‎

‎“Kapan hamil? Itu mbak kamu udah lahiran loh. Malah itu temenmu yang nikah bareng sama ‎kamu udah hamil. Kamu kapan?”‎


Wow, sepertinya ini bagian pertanyaan yang akan cukup sensitif yang ditanyakan sama Fulanah ‎ke Fulan dan suami. Sebab di pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, range kesensitifan nya akan ‎semakin naik, dipicu emosi, perasaan, dan mental akan ikut kebawa. Jadi kalau nggak disikapi ‎dengan wajar, penuh ketenangan, malah membuat Fulan menjadi down. Apalagi kalau Fulan itu ‎cewek. Untuk sejenak mungkin bisa lupa, easy going aja. Tapi lama kelamaan, tetap akan ‎terbayang, hingga over thingking.‎


Begitulah yang tengah kualami saat ini. Menanti kehadiran buah hati. Apalagi setelah satu ‎tahun berlalu, perasaan tatkala orang lain menanyakan hal ini, membuat atmosfir semakin ‎beda. Lebih ganas sih daripada sebelum satu tahun. ‎


Sebab, menyimak apa yang dikatakan dokter kandungan di Belanda, begitu usia pernikahan ‎satu tahun, dan belum dikaruniai anak, maka pasangab perlu berkonsultasi ke dokter yang ‎sesuai menangani bidang tersebut. ‎


Bukan hanya itu, orang-orang yang menanyakan ”Kapan” itu juga tidak mau tahu, atau ‎mungkin tidak terpikirkan kalau hamil itu juga ada campur tangan Tuhan. Karena berkaitan ‎dengan dzuriat atau janin yang ditiupkan lalu hidup di rahim seorang perempuan. Tanpa hukum ‎prerogartif Tuhan, siapa yang dapat memprediksi jawaban tersebut mampu dibungkam?‎


Lebih sensitif lagi, ketika ada yang bertanya ”kapan hamil” lalu dia belum merasakan ada di ‎posisi tersebut. Seakan-akan pasangan tertentu tidak melakukan hal-hal untuk berjuang supaya ‎bisa memiliki momongan. Pertanyaannya seperti menohok namun salah tempat. Harusnya ‎kalau belum merasakan, atau tau rasanya, bisalah mengerti keadaaan pasangan yang tengah ‎menanti kehadiran buah hati itu bagaimana.‎


Karena, ada mereka pasangan yang diberikan momongan secara cepat dan tepat.‎

Ada pula pasangan yang diminta sabar untuk menanti dan akan diberikan dalam waktu yang ‎lambat namun tepat menurut kadar Allah.‎


Begitu masa penantian itu berakhir, orang yang mengalami kejadian serupa tidak melempar ‎pertanyaan itu lagi ke pasangan-pasangan lainnya. Karena rasanya ditanya seperti kapan, ‎kapan itu bisa menguras perasaan loh. ‎


Oh iya, begitu ”Kapan hamil” dilontarkan, lantas cabang ”kapan” lainnya bukan berarti akan ‎terkikis, atau hilang. Akan tetap ada. Seperti.‎


‎”Kapan punya Adek nih?”‎

‎”Kapan mau nambah momongan, kan itu kakak nya udah cocok kalau momong adeknya ‎sendiri,”‎

‎”Kapan, kapan, kapan, wa akhowatuha”‎


Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terus ada di setiap waktunya. Kalau tak ingin terbawa ‎suasana ditanyai seperti itu, memang lebih baik dianggap sebagai angin lalu. Karena segala ‎sesuatunya pasti akan indah jika waktunya telah tiba. ‎



Terus lagi, jangan jadikan pertanyaan kapan seperti roda berputar. Begitu sekarang kamu ‎kerja, lalu kamu akan bertanya hal sama ke orang-orang terdekatmu. Sekiranya kamu tahu ‎perasaan saat ditanyai hal itu,lebih baik cari topik pertanyaan tertentu yang perlu kamu gali.‎


Kayaknya kepanjangan deh tulisan malam ini, hehehe. Semoga artikel curhat aku malam ini ‎tentang ”pertanyaan kapan yang tak berujung” ini bisa bermanfaat yah, teman. Kalau kamu ‎memiliki pengalaman tertentu dengan pertanyaan di atas, atau sejenisnya, boleh deh kamu ‎bagikan di kolom komentar yah. Feel free to drop your comments.‎


Terima kasih sudah membaca dan berkunjung di artikel ini. Sampai jumpa di postingan ‎berikutnya ya. See you


‎~Blessed‎

Khoirur Rohmah


Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Copyright © Fastabiqul Khoirots. Blog Design by SkyandStars.co