Kesenangan yang Melenakan

Sebuah Kesenangan yang Melenakan



Bismillaahirrohmaanirrohim

Halo sobats, sudah lama sekali, aku tidak berbagi cathar nih. Yak,,, catatan harian yang isinya ‎suka random begitu. Kalau kali ini, tetiba dapat pencerahannya sebelum melaksanakan ‎kewajiban ibadah lima waktu, saat Isya’. Sepertinya oke banget nih tema yang akan aku tulis, ‎gitu. Pas banget emang, beberapa waktu terakhir ini juga suka terbuai dengan aktivitas satu ini ‎yang bukannya banyak positifnya, tapi justru sebaliknya.‎


Sebuah kesenangan yang melenakan ini terinspirasi dari kegiatan sederhana seperti bermain ‎ponsel, salahsatu contoh kecilnya yang juga konsisten aku lakukan nih. Jadi, ada saatnya aku ‎ingin memasukkan data tertentu pada salahsatu aplikasi di gawai, tapi masih keliling buka ‎aplikasi lainnya, seperti Instagram, atau selainnya.‎


Yah, itu masih sedikit dari sebagian kegiatan yang mubadzir untuk dilakukan sebenarnya. ‎Herannya, yang seperti itu walau sekali waktu sudah ingat dan tidak akan mengulanginya ‎kembali. Tapi, entah bisikan dari mana, kesenangan yang melenakan itu terulang kembali.‎


Bilangnya cuman sebentar, ternyata lama


Bukan hanya tentang gawai. Perihal waktu pun juga ada cerita yang bisa disebut kesenangan, ‎tapi justru hal ini membawa pada kata penyesalan. Kok bisa???‎


Saat aku dalam keadaan sadar betul-betul bahwa yang aku lakukan dengan waktuku itu hanya ‎terbuang sia-sia, aku menyadari bahwa yang sebenarnya telah kulakukan itu salah. Waktu 5-10 ‎menit itu juga lama. Tapi bisa jadi singkat saat digunakan untuk kegiatan yang tiada guna. ‎Sayangnya hal itu bisa terlihat ketika sudah selesai menjalankannya. ‎


Kalau sudah seperti itu, yang ada hanyalah menyesali apa yang telah dilakukan. Harusnya kalau ‎tadi tidak mager, tidak hijrah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya. Sudah pasti, aku bisa ‎melaksanakan agenda ini, itu, dan lainnya. Tapi, ya tapi .... ‎


Hal itulah yang mendasari aku menuliskan artikel ini. Bahwasanya, kesenangan berupa waktu ‎itu hanya melenakan sesaat. Yang ada akan timbul pikiran. Sayang banget, kalau seandainya ‎tadi gini, gitu. Pun dengan cobaan gawai. Kesenangan dengan memiliki gawai pun juga bisa ‎disebut ujian loh.‎


Kenapa begitu? Sebab, dengan alat kecil satu ini, seseorang seperti aku bisa merelakan ‎waktuku yang bisa digunakan untuk beribadah, namun gawailah yang utama dipegang, bukan ‎segera melaksanakan ibadah wajib kepada-Nya.‎


Bukan alat dan juga waktunya yang salah, melainkan orangnya yang belum bisa ‎mengendalikannya dengan baik. Hal inilah yang juga terjadi denganku. Yang juga berkali-kali ‎mengatakan menyesal, tapi ujung-ujungnya tetap dilakuin. Bilangnya dalam hati sebentar, ‎realitanya justu sebaliknya.‎


Kesenangan-kesenangan tersebut sebenarnya hanya terlihat dipermukaan saja. Padahal aslinya ‎sebaliknya. Tinggal bagaimana melatih supaya kesenangan tersebut tidak digunakan untuk hal-‎hal yang sia-sia belaka. Hal ini teruntuk untuk diri sendiri juga, ya.‎


Dari tulisan ini, semoga apa yang aku bagikan melalui pengalaman berupa kesenangan yang ‎melenakan ini berguna untuk kamu sobats. Kalau kamu punya cerita yang tidak jauh beda, ‎boleh deh untuk tinggalkan di kolom komentar, oke.‎


Semoga artikel Cathar ini bermanfaat, feel free to drop your comments, okay. See you on the ‎next article.‎


‎~blessed‎

Khoirur Rohmah


Komentar

  1. Bilangnya sebentar, ternyata lama kebiasaan, ya. Kalau sudah nyaman dengan suatu kegiatan terlena sudah sampai lupa kewajiban.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, mbak
      Bakalan terulang gitu aja
      Ujung2 nya juga nyesel

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Perangkat Built Up dan Rakitan

Menjaga Hati

Don’t Judge