Bismillaahirrohmaanirrohim
Halo sobats, setelah sekian lama membiarkan tampilan blog dengan beberapa postingan layaknya di sebuah swalayan. Tapi kali ini, spesial. Karena aku juga ingin membagikan sedikit drama terkait memilih dokter kandungan yang ingin kutuju setelah mendapati dua garis berwarna merah pudar di sebuah benda tipis panjang, yang sebut saja tespack.
Jujur, aku sendiri tidak menyangka bahkan hampir tidak percaya saat mencoba tespack tersebut, akan muncul dengan hasil yang sudah lama diharap-harapkan. Sehingga, tatkala pagi itu ingin membuktikan sesuatu hal, respon pertama yang aku keluarkan adalah, "Iya tah?", "Eh, beneran kah?", sambil senyum dengan sedikit terharu campur kaget.
Awalnya dari Sini
Seorang Pejuang Garis Dua
Betul banget! Aku adalah seorang pejuang garis dua yang kurang lebih sekitar 6 tahun penantian. Memang di awal pernikahan, kami memutuskan untuk menunda terlebih dahulu dikarenakan ingin lebih mengenal diri kami dan pasangan. Tapi ternyata sama pemilik kehidupan, diminta untuk proses pengenalan dengan waktu yang lebih lama lagi.
- Emang rencana mau tidak punya anak, kah?
- Udah, jangan ditunda, mau nunggu apa lagi?
- Coba sambil ngerawat anak saudara sebagai pancingan, siapa tahu nanti beneran dikasih
- Kapan nyusul hamilnya?
- Udah pernah ke Dokter Kandungan, atau pijat perutnya, ikut program hamil apa aja?
Nah, itu adalah sedikit dari sekian pertanyaan yang berulang kali dilontarkan oleh orang-orang yang kenal aku dan suami. Bahkan yang lebih bikin telinga panas saat ada yang menanyakan pun ada. Tapi cukup kiranya aku tuliskan sebagian saja ya.
Program Hamil yang Telah Dilalui
Aku di awal pernikahan hingga sebelum tahu kalau sedang mengandung, sudah pernah komunikasi dengan suami, bahwasanya kami ikhtiarnya dengan tidak ke dokter terlebih dahulu. Jadi usahanya dimaksimalkan dengan memperbaiki diri kami sendiri. Apa yang kita butuhkan sebagai seorang wanita dan pria, serta sebagai pasangan suami istri. Karena percaya timingnya Tuhan jauh lebih indah.
Meski demikian, adakalanya juga pengen merasakan hal yang sama layaknya pasangan suami istri yang dikaruniai anak, bahkan saudara sendiri yang syukurlah Tuhan berikan kemudahan dalam mendapatkan hal tersebut.
Sejauh ini, kalau yang biasa disebut program hamil, aku memilih seperti meminum kurma muda, buah dzuriyat di awal-awal pernikahan, konsumsi jamu, pijat bagian perut, olahraga, diet, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan lainnya.
Tapi, semakin bertambah usia pernikahan, bertambah pula cara pandang kami. Daripada harus terlihat sama dengan timeline yang diciptakan sebagian orang, kenapa tidak kita nikmati saja momen penantian tersebut.
Hingga akhirnya, aku dan suami ada di titik, iya sudah kami terima takdir ini, karena yakin, Tuhan memilih kami bukan tanpa alasan. Aku percaya, takdir yang sudah Tuhan gariskan karena tahu hamba-Nya dapat melalui jalan ini dengan baik.
Menyenangkan Diri Sendiri dan Pasangan
Sebenarnya setelah dikatakan kami memilih pasrah dengan takdir yang Tuhan kasih itu, kami jadi lebih legowo dan ikhlas dalam menjalani kehidupan. Walau selama perjalanan itu ditempanya sungguh sangat nikmat sekali.
Walau begitu, aku bersyukur karena aku dan suami bisa menikmati apa yang ingin dapat kami nikmati sebagai seorang pasangan suami istri. Aku bisa ikut kegiatan online dan offline untuk menambah kegiatan positif yang dapat menambah insight baru. Sedangkan suami, memilih menekuni hobinya di luar jam kerja.
Sebelum tespack keluar garis dua merah itu, aku dan suami justru ingin bisa traveling ke berbagai tempat loh. Karena merasa nagih banget bisa jalan-jalan berdua terlepas di kota atau di luar kota. Etapi ternyata sama Tuhan diminta untuk traveling-nya dibatasi untuk sementara dulu. Terlebih ketika sudah dinyatakan kalau positif hamil. Terbitlah momen bertahan hidup itu.
Betul, 3 bulan pertama aku harus bertahan hidup dari pusing, mual, muntah, dan kawan-kawannya. Tapi syukurlah hal tersebut bisa dilalui, walau muntahnya masih kebawa dikit-dikit sampai sekarang.
Untuk yang sedang Menanti Garis Dua Merah
Aku tidak mau banyak berpesan. Karena yakin, di luar sana ada yang menanti mendapatkan dua garis merah dengan waktu yang lebih lama dari aku, atau justru sebaliknya. Aku tahu perjuangan menjadi bagian dari orang terpilih tersebut. Dan berbagai perasaan yang hadir selama penantian itu valid. Tapi kuncinya tetap hanya di diri sendiri dan pasangan.
Aku percaya, selagi komunikasi dengan pasangan dan Tuhan baik-baik saja, walau di luar sana kerap terdengar pertanyaan menyakitkan, hal itu tidak akan berdampak buruk. Justru semakin menguatkan hubungan.
Harapannya, semoga yang menanyakan tidak merasakan hal yang sama. Yakin dan percaya dengan timing terbaik yang Tuhan sudah gariskan.
Anyway, terima kasih sudah membaca postingan curhat aku. Kalau kamu ada pengalaman yang serupa atau tidak sama dari yang sudah aku tulis, boleh banget bagikan di kolom komentar ya.
Terima kasih sudah membaca dan berkunjung di artikel ini, sampai jumpa di tulisan berikutnya.
~blessed
KR.Rohmah

Posting Komentar
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^