Tidak perlu Ngupil untuk bisa menikmati Kerupuk Upil ini

Januari 24, 2018


Bismillaahirrohmaanirrohim...
Halo gaes, bulan Januari sepertinya sudah tinggal hitungan hari untuk beranjak pada bulan berikutnya ya. By the way juga, postingan untuk bulan ini sepertinya masih belum banyak, yah, sayang banget lah tentunya. tapi, masih ada beberapa hari untuk menulis postingan kan? Nah, untuk target postingan yang lebih banyak dan jadi bahan inspirasi teman-teman semua, kali ini saya ingin berbagi soal kuliner makanan. Eh, bukan ding ya, ini tentang oleh-oleh hasil mbolang sehari saya ke Surabaya kemarin, boleh lah baca ya postingannya berikut ini.



Buat spoiler aja, di postingan itu, saya ketemu blogger Surabaya loh, drama banget buat saya, lebih lengkap lagi, baca aja dah, hehhee

Back to oleh-oleh

Nah, karena Hari Minggu pagi sebelum balik ke Jember saya diajak mampir ke pasar dekat Siwalan tengah, saya kepincut sama krupuk pasir. Saya menyebutnya krupuk pasir dari dulu. Karena, dari krupuknya sendiri masih ada keliatan pasirnya kecil-kecil, dan rasanya berbeda dengan kerupuk biasanya yang digoreng menggunakan minyak goreng, gaes.

Nah ini nih penampakan lebih jelasnya ya gaes...

Penampakan Kerupuk Upil

Nama Kerupuk Upil

Deskripsi singkatnya sih seperti ini gaes. Kerupuk upil, kenapa dinamain kerupuk upil? Karena rasanya itu mirip upil, asin. Berarti pernah ngerasain upil kek gimana ya? hehehhee.. entah sengaj atau udah pernah pengalaman tau rasanya upil begimana,,, next


Proses Penggorengan

Yang berbeda dari kerupuk lainnya, kerupuk ini digoreng dengan menggunakan pasir. Ya bisa aja, buktinya ini bisa dimakan kok. Hehehehe. Dan bahan bakunya cukup menggunakan kanji, atau tepung tapioka. Kalau teman-teman membeli kerupuk ini, tentu di bagian bawah ada sisa pasir kecil-kecil berwarna hitam yang bergerumpul.

 
Renyah kok, beneran

Soal rasa dan renyah

Sama halnya krupuk lainnya, tapi ada sensasi sendiri ketika mengunyah atau memakan krupuk upil, atau kerupuk pasir ini ya gaes. Asli beda banget gigitan pertama dan kedua, hingga selanjutnya daripada krupuk yang di goreng menggunakan minyak goreng. Untuk renyahnya sama dan standard krupuk pada umumnya ya gaes, udah beberapa hari baru kumakan, alhamdulillah tidak mengurangi rasa dan tiap cuilannya  krupuk upil ini, tetap gurih.

Bumbu pembuat kerupuk upil

Bumbunya seperti membuat kerupuk pada umumnya, banyakan bumbunya dengan porsi bawang lebih. Maka dari itu, ada beragam jenis merk dan rasa kerupuk upil tergantung yang mengeluarkan produknya ya gaes. Sedangkan yang saya beli ini rasa bawang, emang asin tapi nggak asin banget lah saat dikonsumsi

Tentu ada bawangnya kan ya... hheee

Ada berapa varian, dan bentuknya kerupuk?

Yang saya jumpai ada dua varian bentuk warna dari kerupuk upil ini. Namun, yang saya beli ada varian full warna putih seperti bawang, dan ada varian warna merah hijau, di kerupuk upil satunya, tapi tetap di 1 toko yang sama tempat saya beli loh ya. Soal rasa, keduanya tetap sama, rasa asin khas bawangnya endeus banget untuk digigit dan dinikmati sensasinya, hehehe...

Kerupuk upil cocok untuk mix dengan makanan apa?

Buat santai bisa, buat dicampur makanan seperti nasi goreng, atau pecel, itu bisa banget loh gaes. Malah lebih mantap saat makannya. Bisa-bisa nambah porsi makannya, terus gagal diet, heheheh

Soal harga Kerupuk Upil

Sangat terjangkau. Kemarin saya beli itu satu plastik panjang kerupuk upil yang udah matang siap konsumsi dihargai Rp. 5.000,- per bungkus. Lumayan murah sekali kan gaes. Dan bisa banget buat dibawa oleh-oleh ke sanak saudara di rumah.

Halal ?

Yah, benar sekali, halal gaes. Nggak perlu takut konsumsi ya. enak buat camilan sih kalau buat saya, hehehee.

Bakalan request keponakan kalau balik ke Jember bawain Kerupuk Upil ini, heheee


Itu sedikit kesimpulan yang bisa saya tarik setelah makan kerupuk upil ini loh ya gaes. Karena kalau beli oleh-oleh khas Surabaya apalagi makanan produksi artis papan atas itu, rasa-rasanya sayang banget budgetnnya bisa dianggarkan untuk beli-beli saat sampai di Jember atau untuk sangu balik ke rumah, hehehee... kalau beli kerupuk upil ini 5 bijik, udah bisa dibagi rata sama keluarga lainnya. Kalau beli rotinya artis, 1 box kue hanya cukup untuk dibagi 1 keluarga aja, hehehehe...

Karena atas dasar itulah, saya pilih Kerupuk Upil ini untuk oleh-olehnya, gaes. Saya nggak tau juga sih, Oleh-Oleh Khas Sidoarjo itu apa, yang pasti saya sering dibawain kerupuk ini dulu saat paman balik dari Surabaya, hehehe. Soal kerupuk ini hanya ada di provinsi Jawa Timur aja, saya kurang tau ya gaes.

Nah, buat kamu yang mungkin ada rencana untuk pergi atau berlibur ke Surabaya dan sekitarnya, bisa nyobain beli oleh-oleh tradisional Sidoarjo, Surabaya  ini ya. Kerupuk Upil rasa bawang yang enak banget. Asli. Dan buat teman-teman yang udah pernah nyobain kerupuk upil ini, share dong bagaimana testimoninya? Ketagihan untuk nyoba beli lagi nggak? Hehehe. Suka nggak sama rasa kerupuk upil ini? Share ya di kolom komentar, gaes... hehehe. Intinya tetap feel free to drop your comments okay, hehehe

Semoga apa yang saya tuliskan ini tentang Kerupuk Upil yang nggak perlu ngupil dulu sebelum makanbisa bermanfaat ya gaes...

See you on the next post...

Karangduren, 24/01/2018 – 22.15
Sungguh sangat ngantuk berat, hehehehee

You Might Also Like

3 komentar

  1. unik juga ya, tapi apa jadi gak membayangkan upil ya jadinya

    BalasHapus
  2. Jadi krupuk yang digoreng pasir ini disebut kerupuk upil ya. Kalau ditempatku, kayaknya nggak ada sebutan khusus. Cuma jarang aja. Dan seringnya kalau makan kerupuk ini, masih tersisa pasirnya.

    BalasHapus
  3. kerupuk upil, kesukaanku ini..bisa dimakan sama sambel pecel, atau gitu aja makannya :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Me

Jika ingin mengontak saya untuk keperluan publikasi, kerjasama, ataupun pertanyaan lain tentang blog ini bisa dengan mengirim email langsung ke rurohma95@gmail.com.
Terima kasih -
Copyright by Khoirur Rohmah
Fastabiqul Khoirots

Like us on Fanpage

Kicauan Saya