‎ ‎
personal lifestyle blogger jember

Perlukah Calon Menantu Harus bisa Masak?



Bismillaahirrohmaanirrohim ...
Halo temans... Akhirnya Collabs Bincang-Bincang Rhoshandha X Rohmah bisa update juga. Yang harusnya tanggal 6 kemarin, jadi mundur di tanggal 15 ini. Hhee. Ngomong-ngomong nih, teman kollabs kita kali ini tentu menjadi pertanyaan kamu yang mungkin akan menikah nantinya. Iya dong, hehee. Bahkan yang masih belum terikat seperti saya pun, juga merasakan hal seperti “apakah harus bisa memasak yah, bukan saat di depan suami, tapi Cuma mertua?” kira-kira demikian.

Baca juga nih tulisan punyaknya Mbak Rosa

Sepertinya kalau saya mengiyakan, kesannya “pro” gitu yah. Hheee. Sebenarnya, dan sejujurnya saya “kontra” dengan adanya statement seperti ini. Karena, saya pernah dengar ada yang bilang, seseorang yang pernah mempelajari kitab tentang rumah tangga, yang mana mengatakan. Perempuan itu tugasnya bukan masak loh. Tugas dia tuh paling pokok itu ada 3, yaitu :
1.    Melayani suami
2.    Menjaga dan merawat putra-putri
3.   Menjaga kehormatan suami, di manapun istri berada.


Kurang lebih yang teman saya katakan seperti itu. Nah, kalau masyarakat mengatakan jika “perempuan sebelum menikah itu harusnya bisa masak, supaya bisa menghidangkan masakan kepada suaminya, supaya dia tidak makan di luar rumah,”.

Misal ada yang berkata seperti itu. Saya kurang setuju. Banget. Karena, pada dasarnya, seorang suami itu harusnya memberikan nafkah lahir dan batin, dalam hal ini nafkah berupa makanan itu sudah harus dalam keadaan “siap makan” bukan siap masak. Dalam artian, suami harus memberi makanan yang siap saji yang diberikan ke istri, bukan dalam bentuk mentahan. Begitu.

Karenanya, kalau ada yang mengatakan “owh, kriteria istri itu harus bisa masak,”. Saya pribadi yang masih sebagai calon menantu, tidak mengiyakan. Namun, saya memiliki tekad tersendiri. Hakikat suami memang harus memberikan saya makanan dalam keadaan matang. Tapi saya tetap akan berusaha belajar memasak. Karena saya suka dengan kegiatan ini. Saya suka bereksperimen. Atau improvisasi jenis makanan, serta mencoba mempraktikannya sendiri. Walau sekarang sih, saya masih belum punya alat komplit untuk perang di dapur.

Terus lagi,,, walau masih belajar memasak, kadang soal rasa masih perlu ditingkatkan kembali,, meski akhir-akhir ini saya sendiri giat kalau ada masak-masak. Karena memang ingin nantinya ketika berumah tangga bukan cuma melayani suami, tapi juga mampu menyajikan makanan yang sehat untuk keluarga. Apalagi denger dari cerita teman blogger saat anak-anaknya ke sekolah selalu dibawakan bekal makanan. Sehingga si anak lebih doyan makanan masakan ibunya daripada harus makan jajan di luar. Nah, itu dia sih salahsatu motivasi yang membuat saya ingin bisa memasak.


Soal harus bisa masak di depan calon mertua?

Ini hanya sekedar angan-angan aja sih ya, temans. Kalau saya sendiri sih, paling nggak bisa lah berbekal keahlian masak sederhana. Seperti nyalakan kompor itu aja deh. Kalau soal pasang tabung elpiji sih, saya sendiri sampai sekarang masih belum pernah berani mencoba, hahahaaa... terus lagi, crosscheck ke calon suami soal ibu mertua itu suka masak atau nggak. Karena hal itu bisa jadi bahan untuk kita merebut hati camer, istilahnya ngebuktiin lah, saya bisa kok nyalain kompor atau ikut bantu-bantu ibu. Walau kalau disuruh masak sendiri belum bisa. Sehingga, walau nggak punya keahlian, paling nggak ada dasar paling dasar, selanjutnya bisa sambil belajar bersama ibu mertua.

Kalau soal nggak bisa masak sekalipun, bukan jadi masalah juga sih. Tergantung kesepakatan antara dua belah pihak. Masak mau beli langsung jadi, atau nanti suami yang masak, karena sama-sama bekerja. It’s oke, selama masa pra-nikah, kedua belah pihak dapat membahasnya kan?

Itu sih hanya sekedar pandangan saya, temans. Soal perlukah calon menantu harus bisa masak? saya tetap kurang setuju. Karena ada perempuan yang berbakat untuk itu, dan sebaliknya. Pun di syarat pernikahan nggak ada syarat demikian kan? Tapi paling tidak, sebagai perempuan kita tahu dasar cara untuk memasak, walau tidak menggeluti langsung. Pun sekarang banyak juga kan tutorial di internet untuk memasak. Tinggal deh pilih mana yang cocok untuk dipraktikkan.


Kalau menurut kamu gimana, temans?
Semoga artikel collabs ini bisa bermanfaat. Saya tunggu semua komen kamu di kolom komentar, feel free pokoknya yah. Hheee

See You
~Blessed
Khoirur Rohmah

6 komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^
  1. Bener banget sih bun, tapi kalau bisa ya bisa masak hehe

    BalasHapus
  2. Setuju mbak, tapi ya disambi dengan belajar masak untuk persiapan nanti kalau sudah berkeluarga

    BalasHapus
  3. Stereotype-nya emang perempuan harus bisa masak ya. Sejujurnya aku balik lagi ke perempuannya aja mbak. Kalo emg bisa menikmati masak, ya belajar. Kan ada tuh yg blm nikah ngga bs masak. Pas nikah coba2 masak eh kok menikmati. Kalo merasa nggak sanggup ya jgn dipaksa2 to. Sing penting hepi. Bisa go food atau yg lainnya. Huehehe

    BalasHapus
  4. Kalo pendapat gua sebagai laki2 nih ..cewe harus bisa masak sih..soalnya gua kalau ngerantau salah satu yang gua kangenin tuh masakan ibu..dan gua ingin klo punya anak nnti dia ngerasakan itu.

    BalasHapus
  5. Nggak harus selalu bisa. Aku klo masak supaya ada bonding aja hihiii.. dan lebih puas. Klo lagi bisa masak ya lakuin, klo lagi repot yaudah beli. Ibu mertua juga nggak riweh. Terserah kita aja yg penting bener tuh, anak2 keurus 😁

    BalasHapus
  6. sebenernya perlu perlu aja, lebih ke softskill dan bekal diri sih, bukan buat nyenengin suami atau mertua. kerasa banget soalnya dengan skill memasak seminggu bisa hidup mewah makan enak dengan budget sangat minimal.

    BalasHapus

Chingudeul