Seperti Apakah Kesehatan Mentalku Hari Ini?

Minggu, 31 Mei 2020

Jember Regency, East Java, Indonesia
Seperti Apakah Kesehatan Mental ku Hari ini?

Bismillaahirrohmaanirrohim
Halo sobats. Kadang kala, ketika kita berharap akan sesuatu hal yang bisa terjadi sesuai angan, nyatanya, alam tak mendukung dan hanya sebatas ekspektasi. Jauh dari kenyataan, yang kadang merusak isi pikiran, membuat perasan ikut cemas, dan hati bergejolak tak menentu.

Sebelum menikah, atau nantinya akan dihalalkan oleh pangeran dengan kuda poninya dengan menghadap kepada wali kamu. Tentu hal-hal indah lah yang akan tercipta. Seperti: melakukan setiap pekerjaan berdua. Bekerja, beribadah, melakukan tugas rumah, menemani saat bekerja, siap mendampingi kapanpun, dan lainnya. Yang terbayang hanyalah romansa nan indah.

Tak jarang pula, dengan semangat siap membuka bahtera rumah tangga, dengan mempersiapkan berbagai hal, dari segi kesehatan mental, ikut kajian keagaaman dengan tema pra nikah, keluarga, yang mana bisa menjadi pedoman, atau persiapan yang lebih baik saat tiba masa halalan thoyyiban antara dua insan itu datang.

Begitu pula yang pernah aku alami dahulu, walau aku nggak ikut kelas seperti pra nikah. Setidaknya dengan wejangan dari para mempelai yang sudah menikah, diceramahi, dikasih ini itu, tata cara saat bersama pasangan, bersama orangtua, mertua,menghadapi kondisi lingkungan tempat tinggal baru, dan lainnya. Karena cakupannya luas sobs.

Aku pikir saat itu apa yang jadi bekalku cukup untukku melewati hari ketika masa pernikahan itu tiba. Nyatanya, setelah pernikahan, ada masa di mana aku ingin menyerah dengan keadaan. Seperti ohh ini kah rasanya menikah. Aku ingin kembali saat masa di mana aku bebas melakukan hal-hal tanpa ada tendensi apapun. Atau aku yang tidak menyembunyikan bagaimana sikapku sendiri saat bersama keluarga sendiri, maupun bersama keluarga suami.

Karena, setelah menikah (bukan masalah sebenarnya) ada kondisi kompleks yang dapat membuat psikis seseorang, khususnya pasutri menjadi lebih sensitif akan sesuatu hal. Semisal, buat yang sebelum menikah tidak pernah membahas akan tinggal di mana nantinya, tentu hal ini juga bisa menjadi boomerang. Menghadapi mertua, yang kadang dikeluhkan pasutri, nggak tiap pasangan juga mengalami seperti ini ya sobs. Ada juga yang nggak demikian.

Ketika bersama mertua, kadang kala merasa nggak nyaman, atau mungkin kultur budaya yang nggak sama dengan keluarga sendiri, dan terpaksa harus mengikutinya secara perlahan. Mau lanjut kerja atau resign. Dan masih banyak hal. Hehehhe

Belum lagi kalau sudah dapat beberapa bulan menikah, pertanyaan terkait. “Udah isi?”, “Udah hamil?”, “Istrinya sudah mengandung?”, “Masa’ gitu aja belum berhasil,”, endebra ~ endebre juga akan menghiasi setiap hari-hari pasutri. Yang mana karena pertanyaan orang-orang tersebut membuat kondisi dan kesehatan mental pasutri jadi kacau, dan bisa menimbulkan stress, jika dibiarkan begitu saja.

Saat aku menulis artikel ini. Aku menyadari salahsatu hal, seperti sedang merasa stress berat. Ingin rasanya marah, nggak mau dekat dengan pasangan, nggak nafsu makan, males, lelah, khawatir, cemas, takut.. Campur aduk jadi satu.

Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Ada apa denganku. Apakah aku selemah ini sampai-sampai harus terlarut dalam kondisi seperti ini. Apakah aku tidak berniat untuk mencari solusi atas permasalahan yang terjadi di dalam rumah tanggaku. Tekanan yang dirarsakan, ingin menangis, tapi tertahan, ingin marah, berteriak, tapi orang lain salah apa, hanya menjadi pelampiasan akan kekesalanku terhadap sesuatu.

Setelah hampir satu jam kurang aku terdiam, meringkuk di kasur, mengingat kembali apa ada yang salah dengan diriku beberapa waktu yang lalu? Apakah aku terlalu menyiksa diriku, hingga keadaan seperti ini datang kepadaku. Hampir lama sekali aku introspeksi sama diriku sendiri, menanyakan banyak hal, apakah kondisi kesehatan mentalku benar-benar baik, saat ini?

Nggak jauh dari tempatku berbaring, ada ponsel pintar yang sedari tadi – saat suamiku mengajak bicara, aku sambil memutar-mutar HP tersebut – sudah tergeletak aku abaikan ketika nggak kuat akan tekanan yang kurasakan sendiri, dan mungkin aku sendiri yang membuat kondisi kesehatan mentalku nggak stabil saat itu.

Tetiba aku membuka aplikasi chrome pada aplikasi yang tertera di wallpaper, dan mencari artikel yang berhungan dengan “stress”. Yah, aku rasa, apakah aku stres hari ini??? Aku memastikan lagi, dan membaca salahsatu artikel dari salahsatu website yang muncul di halaman pertama mesin pencarian google.

*Cara Mengatasi Stress*

Begitulah keyword yang aku tuliskan pada kolom search, dan membuka rekomendasi teratas website di halaman pertama, yang mana itu adalah website milik halodoc yang memiliki kredibilitas dalam menyediakan informasi berdasarkan keluhan tiap pengguna. Dan aku sedang butuh artikel yang berhubungan dengan stress yang mungkin tengah menimpaku tadi.

Pada artikel tersebut dijelaskan secara lebih detail mengenai informasi yang sangat aku butuhkan. Yaitu apa pengertian stress, faktor resiko stress, penyebab stress, gejala stress, diagnosis stress, komplikasi stress, pengobatan stress, pencegahan stress, dan lainnya.

Dan salahsatu gejala stress yang tengah aku alami tadi adalah :
-          Merasa sangat kelelahan
-          Lebih mudah marah dengan orang lain
-          Merasa khawatir, cemas, atau takut
-          Pusing

Setidaknya apa yang menjadi pertanyaanku terwajab sudah. Ohhh seperti ini ya rasanya stress. Mungkin sebelum sebelumnya aku juga merasa demikian. Tapi karena aku mengabaikan kesehatan mental diriku sendiri, makanya aku menganggap diriku masih bisa dikatakan baik-baik saja. Padahal bisa jadi aku tengah mengalami stress berat.

Akhirnya, setelah membaca artikel tersebut. Aku mengumpulkan nyawa, dan kesiapan diriku buat menghadapi stress yang tengah melanda beberapa waktu yang lalu. Benar-benar merugikan diriku dan orang lain.

Wajar juga sih kalau stress, tapi kalau dibiarkan berlarut-larut apa baik?

Dan aku berani bangkit dari stres tersebut, sehingga terciptalah artikel ini. Yang mana, kadang kala seseorang cukup abai dengan kesehatan mental. Padahal poin itu cukup penting untuk kegiatan sehari-hari kedepannya bakalan seperti apa.

Jika perlu penanganan lebih. Karena diri sendiri nggak mampu mengatasi. Cukup menghubungi tenaga medis yang memiliki kemampuan dalam menjawab setiap permasalahan yang tengah kamu hadapi. Seperti yang tadi aku alami, saat benar-benar down dan rasanya ingin menyerah dan bingung akan mulai dari mana.

Buka website pada browser yang ada di ponsel pintar kamu atau aplikasi Halodoc yang bisa kamu install di playstore atau appstore yang tersedia di smartphone. Sampaikan keluhan yang tengah kamu rasakan kepada para dokter yang akan mendengar segala permasalahanmu.

Karena beberapa kali kesempatan aku juga sering menanyakan keluhan lain terkait kesehatan para para dokter yang ahli dalam bidangnya untuk menjawab keluhanku. Waktu itu aku menanyakan terkait eksim kering yang menyerang jari tanganku kepada dokter kulit yang tersedia di aplikasi Halodoc. Alhamdulillah permasalahanku bisa terjawab sobs.

Buat yangr belum tahu, apa itu Halodoc, halodoc adalah sebuah aplikasi layanan kesehatan yang menjadikan makin mudah dan terintegrasi bagi para pengguna aplikasi dalam hal ini bisa dikatakan pasien untuk mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan dengan mudah, cepat, hanya melalui gawai yang dimiliki.  Layanan kesehatan itu salahsatunya dengan konsultasi kepada dokter melalui fitur chat dokter, lalu menyampaikan permasalahan yang tengah dihadapi pasien.

Ok sobats, alhamdulillah. Berkat informasi yang diberikan oleh Halodoc, aku bisa membuat kesehatan mental yang tadi beneran berada di titik rendah, kembali lebih baik dan siap menjalani hari bersama pasangan, dan aneka drama yang ada dalam rumah tanggaku.

Pesan buat kamu yang memang juga berada di kondisi seperti aku, jangan menyerah, dan patah semangat. Tanamkan dalam diri dal pikiran kamu. Aku bisa dan siap menghadapi hari. Jangan kamu abaikan kondisi mu. Kalau perlu tanyakan pada diri sendiri seperti apakah kesehatan mentalku hari ini?  Apakah benar-benar baik atau buruk?

NOTED
Jangan takut untuk menikah. Drama pernikahan selalu ada. Namun, kamu bisa membicarakan hal itu berdua dengan pasanganmu nanti. Tidak akan selalu ada permasalahan kok. Pasti ada yang namanya masa senang-senang dengan pasangan selalu ada, dan mungkin banyak senangnya ya. Masalah hanya pelengkap, kerikil, bumbu, dalam kapal bahtera rumah tangga kamu nantinya. So, jangan takut menikat. Dan jangan juga memaksa untuk menikah. Percayalah akan ada masanya itu tiba.

Karena menikah bukan untuk hari ini dan besok saja, melainkan untuk ibadah seumur hidup, yang nantinya juga ditanyakan di hadapan-Nya. Sebab menikah bukan perkara aku dan kamu saja, melainkan, aku, kamu, keluargaku, dan keluargamu. Okay... ^_^

Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk siapa saja, percaya saja, akan ada pelangi setelah turunnya hujan. Dan yakinlah bahwasanya Allah tidak akan membani hamba-Nya melebihi kemampuannya. Pasti bisa !!!!

Selamat membaca dan terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Jangan lupa, feel free to drop your comments  ya....

~Blessed
Khoirur Rohmah

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Copyright © Fastabiqul Khoirots. Blog Design by SkyandStars.co