Dari Keterpaksaan dan Berakhir Bahagia

Jumat, 17 Januari 2020

Tokyo, Jepang

Finansial Planning sebelum menikah


Bismillaahirrohmaanirrohim
Halo sobats FR, apa kabar nih... sepertinya bulan ini lagi kena syndrome malas bikin postingan. Padahal nih ya kalau mau ditulisin tuh banyak banget ide yang harusnya dibagikan via rumah maya aku ini. Salahsatunya terkait mental-mental sebelum memutuskan untuk menikah, terkait persiapan menuju jenjang pernikahan. Selain dari psikologis, hingga pasangan. Namun juga dari segi finansial.

Ngomongin soal judul yang aku pilih di atas, hal itu juga nggak jauh-jauh dari persoalan keuangan sebelum nikah. Mengapa demikian? Ketika menikah, dan kita bisa berjuang untuk acara sakral tersebut sendiri, untuk perayaan tersebut. Tentu sebuah effort tersendiri dan ada rasa bangga dalam mengapresiasi diri. Mengapa demikian? Iya bangga lah. Alhamdulillah ternyata aku bisa loh, walau tertatih-tatih.

Apalagi kalau ditanya salahsatu keluarga suami dengan pertanyaan, “Kemarin acara di sana pakai biaya siapa?,” lantas kamu menjawab “Saya sendiri,” bangga nggak sih? Ahahhahaaa.

Nah, hal itu juga berkisahkan tentang diriku sendiri. Dulu, sebulan dua bulan aku bekerja, kakak aku selalu nyerewetin aku. “Kalau punya gaji, disimpen lah. Kalau perlu titipin ke aku, tapi harus konsisten tiap bulan nominalnya sama, biar kamu ada tabungan sewaktu-waktu ingin butuh beli ini, itu, hingga persiapan buat menikah nanti. Apalagi kamu nggak bisa mengandalkan biaya dari emak. Karena emak nggak kerja, pun bapak kamu juga nggak ngurus kamu,” kurang lebih seperti itu ucapan kakak nomor 3 yang meng-handle uangku.

Awalnya emang berat asli berat banget. Jadi, di awal aku dapat gaji dari nominal 200ribu dan meningkat tiap kelipatannya hingga stuck di 1.200 – 1.300 itu, baru aku menabung dengan nominal 200.000 tiap bulannya. Tapi nggak nunggu dapat gaji banyak ya. karena sebelum gaji di angka satu juta, aku udah ditagih uang 200.000 tiap bulan.

Alhasil, aku bisa beli laptop ya walau second. Tapi seneng lah bisa punya laptop walau bekas tapi uangnya sendiri. Selain itu, bisa membeli motor untuk bekerja, yang awalnya naik sepeda, bisa pakai motor sendiri, lagi-lagi dengan uang tabungan sendiri untuk membelinya. Ya walau motornya bukan baru, atau lagi-lagi bekas. Tapi motor yang aku beli ini motor produk lama dengan kualitas mesin yang asli. Jadi, kalau dulu beli hanya sekitar 3 jutaan, kalau sekarang dijual bisa jadi 5 jutaan. Karena orang-orang cenderung suka motor produk lama dengan kualitas mesin asli dan bisa dimodifikasi. Begitu.

Selain untuk kebutuhan itu, ada rasa bangga sendiri juga tatkala beli HP dengan uang sendiri. Asli. Bisa punya handphone pakai uang sendiri adalah perjuangan yang tak terelakkan. Meminang ZenfoneMax Pro M2 harus dengan mengumpulkan uang terlebih dahulu hingga berbulan-bulan baru bisa punya.

Bahkan untuk biaya pernikahan pun berlaku sistem keterpaksaan di awal tapi ujung-ujungnya bikin aku cengengesan. Hahahahaa. Kayak gitu lah sistem dari menabung. Kalau kita nggak terbiasa emang berat banget. Apalagi jatah tiap bulan mesti dikurang nominal yang sama untuk tabungan. Tapi kalau nggak gitu mana bisa nabung. Apalagi ada yang dengan senang hati kasih wejangan dan mau nyimpen uang kita.

Dalam hal tabung menabung uang ini, aku sangat bersyukur dengan keterlibatan kakak nomor 3 aku yang dengan senang hati menyimpan uangku dengan jumlah  tertentu. Udah nyerewetin aku, berkat dia dan suaminya, aku lebih berhati-hati saat dapat rejeki berapapun untuk selalu kasihkan ke dia. Mengerem jajan atau konsumerisme yang tak terhintung jika dibiarkan. Alhamdulillahh sekali akan hal itu.

Postingan ini saya tulis dalam rangka, berterima kasih kepada kakak ketiga aku yang berjuang untuk adiknya dalam hal keuangan. Atau bank uang aku pribadi, bahkan setelah nikah aku masih mengandalkan beliau. Semoga setelah kuret akan ada janin yang dipercayakan kembali ke kakak aku. Semoga kembali sehat, dan siap menghadapi hari kedepan nanti.

Bahwasanya, dibalik keterpaksaan suatu hal tentu akan memiliki muara tersendiri. Seperti yang sudah aku bagikan dari atas tersebut ya. Dari keterpaksaan menabung tiap bulan juga punya muara berujung bahagia yang akhirnya bisa aku petik hikmahnya.

Semoga kamu yang sedang membaca artikel Dari Keterpaksaan dan Berakhir Bahagia ini terinspirasi juga ya. Atau kamu ada kisah yang sama denganku, feel frree to drop your comments yah sobats. Terima kasih sudah singgah dan membaca artikel ini. happy reading

~Blessed
Khoirur Rohmah

15 komentar:

  1. semangat terus ya nabungnya

    BalasHapus
  2. Kak Rahma keren sekali ikhtiar dan sabar dalam menabungnya, semoga berkah hasil seterusnya dan juga pernikahannya ya kak. Ikut seneng bacanya kalau baca mengenai sabar dan usaha gini, peluk jauh. Alhamdulillah juga kakak2nya saling membantu yaa :D

    BalasHapus
  3. Kalau punya uang sendiri buat beli sesuatu atau biayain sesuatu tuh emang lebih nyaman ya, Rohmah. Aku uang simpen sendiri sih dan gak cuma satu tempat. Nabungnya juga ada yang dalam bentuk barang. Siapa tahu butuh cepet nantinya

    BalasHapus
  4. kurang lebih seperti blessing in disguise ya mbak, apalagi melakukan hal positif secara konsisten itu enggak akan sia-sia.

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah mendapat keluarga yang bisa saling support tanpa jasa. Keluarga memang gak ternilai.

    BalasHapus
  6. punya orang yang support tentu menyenangkan sekali. Beruntungnya punya kakak yang bisa menjadi bank tabungan pribadi ya kak hehehe. Salut kak dengan manajemen finansial kakak yang mampu menyimpan dengan baik sehingga bisa beli laptop, smartphone sampai motor sendiri. Membeli barang sesuai kebutuhan dan pemanfaatannya

    BalasHapus
  7. Ah jadi inget masa gadis dulu mbak, saat masih ngantor. Ngumpulin gaji juga buat beli laptop hehe :D
    ALhamdulillah ya seneng ada saudara yang peduli dan ngingetin buat nabung kek gtu, jdnya walau dah nikah ya tetep terbiasa gak foya2 :D

    BalasHapus
  8. Sebenernya...
    Manusia itu bisa yaa...asal dipaksa oleh keadaan.
    Pengin banget bisa nabung tanpa tapi. Selalu ujung-ujungnya, uang buat jajan lagi...belanja lagi...huhuu~

    BalasHapus
  9. Memang sih ya kalo nabung itu, kudu sedikit dinpaksa. Apalagi kadang semangat bisa juga mengendur jadi harus kuat motivasinya terutama barang apa yg mau di beli

    BalasHapus
  10. Kadang untuk menabung itu memang harus dipaksa. Dan katanya lebih baik menabung di muka. Begitu gajian, langsung potong untuk tabungan. Bukan di akhir, menunggu sisa uang hihihi

    BalasHapus
  11. Bener banget,Mba. Walaupun barang second kalau beli oakai uang sendiri rasanya bangga dan terharu banget. Saya dulu gitu pas bisa beli motor.

    BalasHapus
  12. Terkadang, kita harus sering menabung untuk kepentingan masa depan. Keren sekali kamu punya kakak yang mau membantumu untuk itu. Sukses juga ya buat rencanamu di masa depan! Tabik!

    BalasHapus
  13. Menabung, sedikit demi sedikit lama lama jadi bukit. Dari receh yg kadang terselip, menjadi sejumlah uang yang cukup tuk belo benda idaman

    BalasHapus
  14. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Terpaksa atau sukarela, bukan hal yang penting, tapi tekad yang menentukan. Selamat Rohmah :)

    BalasHapus
  15. Menarik sekali, perjuangan dalam bekerja dan menabung dianalogikan sebagai keterpaksaan :) tapi memang ya tidak ada hasil yang mengkhianati saat kita memperjuangkan sesuatu.
    Saat mau punya motor saya juga juga harus menabung selama 1 tahun dulu, Alhamdulillah sukses beli motor secara tunai.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Copyright © Fastabiqul Khoirots. Blog Design by SkyandStars.co