Drama Kapan Nikah dan Nikah before-after 25Yo

Oktober 06, 2018




Bismillaahirrohmaanirrohim
Halo gaes, selamat malam. Kali ini aku ingin sharing kepada kelian tentang postingan kolaborasi blog www.rurohma.com dengan www.halokakros.com. Kamu udah pada kenalkah dengan pemilik blog yang aku sebutkan itu? Yah, dia adalah Mbak Rhoshandhayani KT, teman blogger di Jember.


Inisiatif untuk membuat postingan kolaborasi ini sudah pernah kita bahas di bulan kemarin. Tapi selalu saja mundur, hehehe. Lagi-lagi nggak jadi begitulah. Namun daripada nggak jadi-jadi, sehingga kami memutuskan akan posting di awal bulan Oktober ini. Sekarang masih awal bulan Oktober kan?

Tema yang kami angkat seputar dunia ‘Relasi’ tapi ini lebih ke hubungan yang ada kaitannya dengan umur kami yang hampir seperempat abad. Iya, hampir mencapai 25 tahun. Bedanya Mbak Rosa umur 24 tahun, sedangkan aku 23 tahun. Tidak terpaut jauh juga kan. Tentu drama berkaitan dengan judul di atas nggak akan jauh-jauh juga. Pasti sering dan bisa jadi makanan sehari-hari.

Nah, karena itulah, di sini aku ingin membahas tema collabs tentang “Menikah sebelum atau sesudah umur 25 tahun. Apa yang menjadi harapan dan kekhawatiran?”  



MENIKAH MUDA dan SEBELUM 25 Th

Aku pernah menuliskan tentang sosok remaja yang dulu digadang-gadang menikah muda. Bedanya kalau di desa, meski remaja putra-putri menikah di bawah umur 20 tahun, mungkin terdengar sebuah peristiwa yang biasa dan lumrah. Namun, karena yang menjalani nikah muda ini seorang putra dari seorang ustadz, sehingga beritanya cukup cepat menyebar, bahkan banyak yang terinspirasi untuk bisa seperti putra beliau.

Sebelum aku membahas lebih lanjut lagi, semoga keluarga Mas Alvin dan Mbak Larissa Chou menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, until jannah. Aminn ya Robbal Alami. *aku manggil mas dan mbak, karena mereka lebih dahulu menikah ya, meski saat itu aku umur 21 tahun, mereka masih berumur 17 dan 18 tahun, xoxoxoxo.

Iyaps, fakta pernikahan keduanya cukup menyita perhatian publik bahkan aku sendiri juga ikut menuliskan pendapatku dalam sebuah postingan. Pernikahan yang terkesan cepat dan membuat para remaja jadi ikutan baper termasuk aku.

Ada opini yang mengatakan jika untuk menghindari perzinahan. Namun, jika hal itu dilakukan oleh orang yang awam persoalan agama dan tanggung jawab, aku sedikit kontra ya, hohoho. Namun untuk pernikahan keduanya tentu masih ada andil dan bimbingan oleh ayah Mas Alvin yang notabene seorang ustadz kondang, tentu Mas Alvin juga sudah telah dipertimbangkan siap menikah atau nggak. Keberkahan sekali memiliki ayah yang demikian.

Meski keduanya menikah di usia muda pun, keduanya juga telah memiliki usaha masing-masing. Bahkan setelah menikah, job dan tawaran pun membanjiri. Berkah nikah muda loh.


Sayangnya, aku hanya sekedar baper, nggak sampai nekat minta dinikahin sama si mamas, inget nih. Masih ada berbagai poin yang perlu dilakukan. Daripada sibuk baper sama si nikah muda. Mending sibuk mempersiapkan diri untuk ke jenjang berikutnya, kan?

Menikah itu adalah investasi masa depan jangka panjang yang perlu disiapkan dengan baik, karena butuh tanggung jawab besar dalam mengembannya

Dulu, saat aku masih anak baru di tempat kerja dan telah banyak menghadiri undangan teman sekolah, serta mendengar kisah dari kakak mengenai pernikahannya, membuat aku memutuskan jika ingin menikah sekitar umur 22-23 tahun. namun sepertinya Allah belum ijinin sekarang yah, kali aja beberapa bulan ke depan ya. hhhohoho. Aminin dong, gaes. Xixiixixix



Menikah di bawah umur 25 tahun, apalagi di awal umur 20-an adalah sebuah harapanku yang tergolong usia ideal menikah. Emangnya kenapa sih kalau bisa menikah di umur tersebut?

Karena, harapannya sih bisa lebih muda dalam menjadi seorang istri atau seorang ibu yang mana nantinya ketika memiliki anak umur pun tidak terpaut jauh dengan si kicik. Yah begitulah.

Sedangkan kekhawatirannya, hal-hal pendukung yang sifatnya realistis belum tercapai atau terpenuhi. Misal, persiapan matang, bukan sekadar niat ‘aku akan menikah’ tanpa bawa bekal sama sekali seperti ilmu, pengetahuan, uang, intinya yang bondo nekat itu tentu salahsatu kekhawatiran.

Kecuali ada pemikiran begini. Ilmu sama pengetahuan berumah tangga? Bisa didapat setelah menikah. iya tapi kan alangkah lebih baik jika membekali diri untuk melangkah ke jenjang tersebut dengan benar-benar siap, dan bukan seperti air mengalir aja. Paling nggak ada prinsip yang kekeuh, sampai mana belajarnya, sisanya bisa dipelajari ketika memasuki pintu pernikahan.

Sedangkan uang. Ini nih, yang sedikit bikin aku gemes, hahaha. Iya, aku yakin rezeki bisa dicari setelah nikah nanti. Rezeki seseorang yang sudah menikah akan ditambah. Percaya saja sama yang di atas.

“Uang orangtuaku banyak, ngapain juga mempersiapkan biaya pernikahan nanti, atau mau gimana nanti setelah nikah. Orangtuaku siap membantu, jadi tunggu apa lagi”

Halooo... iya kalau orangtua sudah terjamin kekayaannya akan terus mengalir hingga ketujuh turunannya atau malah lebih, namun jika nggak? Kita nggak tau masa depan seperti apa kan? Lantas harus menggantungkan setiap kebutuhan rumah tangga kepada orangtua. Iya kadang mereka dengan sukarela membantu kepada putra-putrinya, namun sebagai anak tentu aku juga akan ambil keputusan juga sih.

“Eh, lebih baik kalau bisa mempersiapkan dana untuk pernikahan nanti sendiri. Sekalipun ada kekurangannya sedikit, bisa dibicarakan dengan orangtua” – Jika ada pemikiran seperti ini aku setuju banget, dan nggak perlu khawatir lagi udah untuk nikah.

Paling khawatir kalau semuanya pasrah bongkoan, opo eneke kepada orangtua, itu yang menjadi kekhawatiranku. Mereka nggak lagi muda, malah lebih bertambah usianya. Apa aku akan merepotkan mereka selagi aku bisa membantu mereka.


MENIKAH SETELAH 25 Th


Membahas poin ini membuatku jiper sangat, gaes. Lah aku aja belum nikah dan nggak kebayang jika menikah setelah melewati umur25 tahun. Tentunya nggak banyak yang ingin kusampaikan. Di umur-umur 25 ke atas, tentu pemikiran seseorang sudah dianggap lebih dewasa termasuk untuk membina sebuah rumah tangga. Apalagi jika telah mempersiapkan lebih lagi mengenai hal-hal realistis yang dibutuhkan saat sudah menikah nanti.

Kekhawatirannya sih, tentu omongan orang lain ya. hahaa. Apalagi perempuan yang berada di desa tuh, kalau udah memasuki umur-umu tersebut, deras sekali pertanyaannya pasti. Udah yang bilang macem-macem pula, hahahaa. Ya begitulah.

---

Yang pasti, buatku, nikah baik di umur sebelum atau setelah umur 25th di tiap orang itu baik-baik aja. Belum segera menikah bukan berarti nggak laku, atau apalah itu. Bisa jadi, sang pujaan hati sedang mempersiapkan sesuatunya untuk persiapan pernikahan. Atau belum bertemu dengan seseorang yang ‘klik’, atau dana yang dirasa kurang dari target yang telah dibuat, dan masih banyak lagi.

Tentunya, segala sesuatu untuk melaju ke pernikahan itu mengandung sebuah kebaikan, tanpa didasari untuk niat dengan hal-hal yang tercela ya. Nikah dengan syarat ini itu, menutupi ini itu, atau biar untuk apa, dan lain-lain.


Jika belum menikah sekarang, tentu Tuhan telah mempersiapkan waktu yang tepat untuk kita bisa menikah nantinya. Sibukkan diri dengan berbagai hal yang berguna untuk masa depan sekaligus investasi jangka panjang kita baik di dunia maupun di akhirat nanti. Kalau nggak kuat ingin segera menikah, tapi beberapa hal belum tercapai, yah. Puasa saja dulu, penggalan arti hadis berikut ini :

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu serta berkeinginan untuk menikah, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Karena sesungguhnya puasa itu dapat menjadi tameng baginya (melemahkan syahwat) [Mutafaqun ‘Alaih]

Menikah bukan seperti kita melakukan permainan, kalau sekarang bosan, besok bisa main lagi. Namun semuanya serba jangka panjang. Pastinya akan ada banyak hal yang baru bisa ditemui nanti setelah menikah.

Nggak banyak yang bisa aku sampaikan disini, hanya sekedar harapan dan kekhawatiran menikah sebelum umur 25 atau sesudah umur tersebut dari kacamataku sendiri.

Tentu, drama “Kapan Nikah” akan terus melambung tinggi seiring berjalannya waktu akan tetap menggema sampai kita menikah. Bahkan pertanyaan yang diawali dengan “Kapan” akan terus mengalir dan membuat horor nanti-nanti setelah kita melewati babak baru setelah pernikahan.


Kalau mungkin ada yang kurang jelas, kurang cocok, atau kurang sreg, kamu dapat menuliskannya dalam kolom komentar di bawah ya, gaes. Tentunya hal itu dapat membantu proses penulisan artikelku selanjutnya.

Penasaran bagaimana pendapat Mbak Rosa tentang Nikah Muda? Baca aja nih, Menikah Muda, Beragam Pertanyaan dan Stereotipe

Feel free to drop yoour comments ya gaes

Sampai jumpa di Collabs Blogging berikutnya dengan tema yang lebih fresh pastinya.


~Blessed






You Might Also Like

5 komentar

  1. Siap ditunggu mbak artikelnya , sepertinya menarik :D

    BalasHapus
  2. Intinya sih kesiapan mental yang bener-bener siap dan bukan sok-sok siap padahal enggak, soalnya aku ini dulu termasuk yang sok siap dan akhirnya yaaa...begitulah bubar jalan.
    Gudlak sis, semoga dipermudah semua jalan sama mamasnya yes.

    BalasHapus
  3. Ya Allah baper bacanya kak, paling males adalah omongan tetangga kanan kiri yess bikin risih dengernya -_- sing penting ikhtiar dulu deh akunya (eaaa)

    BalasHapus
  4. hihi, memang kegalauan ini selalu menghinggapi yang belum menikah, tapi kalo udah nikah ya nanti ada lagi. pokoke ga rampung2,,...hehe

    BalasHapus
  5. Huwooooow
    aku takjub
    dan aku baru baca, hehe

    Aku aja nih, yang tinggal di kota, pas main ke rumah mbah uti di desa, udah diejek-ejek tuh kenapa kok aku belum nikah. hahaha
    tapi dasar aku mentalnya enjoy-enjoy aja ya, jadi ejekan mereka hanya kuanggap angin lalu. cuma beda prinsip dan pandangan aja sih soal ini

    iya loh, menikah tuh ya ibadah yang selamanya, dengan orang yang sama, dengan kebaikan dan sifat alamiahnya. Kalau di umurku yang sekarang, yang masih 1-2 tahun lagi sepertinya untuk menikah, banyak hal yang aku persiapkan. selain dana untuk wedding (yang Ibu nggak mau biayain sendirian, dan ayah yang masih cuek sampai sekarang), ya aku juga harus mikir dan mulai nabung. Belum lagi nabung buat after marriage. wuah gilaaaak.

    gak cuma nabung duit, tapi aku juga lagi nabung ilmu. Mikir beli rumah KPR atau cari kontrakan dulu, mikir financial plannya, mikir nanti makannya gimana soalnya pengen makan sehat, mikir nanti anak sekolah gimana

    duh laaaaaaaaaaaaaaaaah
    hahahahaha

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Me

Jika ingin mengontak saya untuk keperluan publikasi, kerjasama, ataupun pertanyaan lain tentang blog ini bisa dengan mengirim email langsung ke rurohma95@gmail.com.
Terima kasih -
Copyright by Khoirur Rohmah
Fastabiqul Khoirots

Like us on Fanpage

Kicauan Saya