[Day 23] Sebuah Penyesalan dan Hikmah dibaliknya

Minggu, 16 Desember 2018

Jember Regency, East Java, Indonesia


Bismillaahirrohmaanirrohim ...
Halo temans... Alhamdulillah banget akhirnya malam ini bisa membayar postingan yang sebelumnya belum saya posting. Huhuuuu. Merasa tanggung jawab banget untuk bisa komit posting tulisan dalam 1 Minggu walaupun ini di Minggu terakhir sedikit melempem kayak krupuk yang nggak lagi krues-krues. Hhahaa.. untung saja bisa bangkit lah ya. Alhamdulillah banget pastinya.

Nah, di hari ke-23 ada tema tengan “Hal yang disesali saat ini”, kalau mengingat tema ini saya jadi kembali pada bulan September kemarin, gaes. hehehee. Masih dalam rentan waktu tahun 2018 lah, walaupun ada keterkaitan dengan tahun-tahun sebelumnya. Memangnya ada apa sih ya? hehheee

Di sini saya tak ingin mengungkapkan hal yang kelihatannya biasa-biasa aja untuk disesali, walaupun dampaknya besar banget. Seperti contoh; tidur larut malam dan baru bisa sholat menjelang subuh, gegara begadang atau saat tidur bilangnya nanti-nanti sampai sholat isya’nya terbengkalai. Itu salahsatunya.

Namun di sini saya hanya memberikan 1 penyesalan yang cukup membekas buat saya pribadi, yang meninggalkan hikmah dan pelajaran tersendiri pastinya. Emang apa sih itu?


Penyesalan itu datang di akhir, kalau di awal namanya pendaftaran


Ada yang pernah dengar dengan slogan tersebut? Kalau menurut kalian, benarkah? Dan sesuai dengan realitanya kah? Kalau saya sih, iya. Nggak tau kalau Mas Anang. Heheheheee. Iya, penyesalan atau hal-hal yang disesali itu pasti datangnya di akhir. Kita mana tahu sih kalau langkah yang kita pilih tersebut malah mendapatkan penyesalan. Walau pun mungkin kita sudah mengasumsikan tidak akan terjadi hal demikian. Tapi, karena penyesalanlah, kita juga banyak belajar berbagai hal. Bener nggak? Heheheee

Mengabaikan Rasa Sakit


Dulu, sekitar tahun 2009 saat saya duduk di bangku MTs setingkat dengan SMP, saat sedang dalam perjalanan ke sekolah dengan mengendarai sepeda, saya mengalami kecelakaan di persawahan. Entah saya lupa-lupa ingat bagaimana kronologinya, yang pasti saya jatuh tersungkur di jalan raya, namun saya berusaha bangun dan tetap mengayuh sepeda hingga sampai sekolah. Begitu hampir dekat dengan area sekolah, sepeda saya taruh di reparasi sepeda dan motor, supaya saya saat pulang nanti mudah ketika mengayuhnya. Begitu pikir saya.


Selama pelajaran, kaki tangan, dan sekujur tubuh saya sakit sekali. Masih teringat jelas saat saya menaruh tangan kanan saya di lantai sembari menyangga tubuh yang dalam posisi duduk, namun tangan saya nggak kuat, terasa nyetrum banget, pokok nggak bisa dijelasin bagaimana rasanya.

Setelah sepulang sekolah, sesampainya di rumah, saya hanya mengatakan kalau saya habis jatuh kecelakaan, tapi saya nggak pulang ke rumah walaupun jarak rumah sama sekolah tuh lebih dekat sama jarak kembali ke rumah, namun saya memilih untuk terus ke sekolah. Saya bilang ke emak, dan berniat membawa saya ke dukun urut, tapi saya memaksa nggak papa walau nggak dibawa ke dukun urut tersebut, yang mana horror banget dulu, hehheee.

Dan karena kejadian tersebut, saya sangat menyesalkan keputusan saya untuk tidak memeriksakan luka yang saya rasakan waktu itu. Karena selama tahun-tahun setelah kejadian tersebut, kaki saya sungguh sakit banget. Bahkan sampai sekarang.


Karenanya, saat saya mengalami kecelakaan seperti postingan di atas, saya sungguh menyesali keputusan sembrono yang pernah saya lakukan tersebut. Mana kala saat kecelakaan sewaktu naik motor di bulan September lalu, walaupun sulit, dan takut, saya beranikan diri untuk dipijat apalagi bagian kaki. Tapi ini pijat khusus patah tulang, gaes. Karena dikhawatirkan ada jemari kaki saya yang patah karena menabrak tersebut. Hheee. Selama di dukun pijat tersebut, saya beneran dimarahin. “kok dulu nggak bilang-bilang kalau habis jatuh?,”, “kok baru sekarang bilangnya,?”, “ini mana bisa disembuhin, udah retak juga,” dan lain-lain pertanyaan yang sungguh menyayat hati itu.

Iya... sungguh saya menyesali keputusan saya dalam meremehkan sebuah kejadian. Hal yang saya kira akan tampak baik-baik saja, malah membuat saya merasakan berbagai hal. Memberikan banyak pengalaman hidup untuk saya, termasuk ditempa karena sebuah penyesalan.


Andai dulu saya bilang dan segera diperiksakan. Mungkin kejadian kaki retak ini nggak akan terjadi. Andai waktu bisa diputar kembali. Saya juga nggak akan tersiksa saat berlari kesana kemari, di saat saya memikirkan hal tersebut yang ada hanyalah penyesalan dan tangisan air mata cinderella, heheheee...

Karenanya, dari sebuah penyesalan saya belajar arti hikmah dibaliknya. Hal tersebut membuat saya lebih aware jika saya mengalami hal yang serupa namun beda konteksnya. Dan lagi tak ingin mengabaikan hal-hal remeh apapun itu, daripada saya harus menanggung beban berupa penyesalan di akhir kejadian.

Nah, itu dia kisah saya tentang halyang disesali saat ini yang mana saya dapatkan dari tidak mengabaikan sebuah kesehatan atau sakit apapun itu bentuknya. Kalau kalian punya penyesalan yang sama kah? Boleh deh drop anything your comments yah gaes. feel free pokoknya, heheee

Semoga postingan ini bisa bermanfaat. Terima kasih sudah membaca dan berkunjung. See you soon...

~Blessed
Khoirur Rohmah
#bloggerperempuan #BPN30dayChallenge2018

1 komentar:

  1. Duuh kalo ditanya penyesalan zaman dulu, kayaknya aku bakal banyaaak aja :p. Tapi ya sudahlaah yaa. Jdg dipikir, udh lwt juga toh. Ga bisa diapa2in lg. Yg bisa kita lakuin cuma, ambil pelajaran dr situ, supaya ga kejeblos di lubang sama 2x :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung kemari.
Salam kenal, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, supaya bisa berkunjung balik. Hhee. ^_^

Copyright © Fastabiqul Khoirots. Blog Design by SkyandStars.co